SUKABUMIUPDATE.com - Dari tahun 2025 hingga awal Agustus 2026, ada 181 kejadian gempa di wilayah Sukabumi, dimana 11 diantaranya dirasakan oleh masyarakat. Tidak ada yang tahu kapan gempa akan terjadi, namun mitigasi dan edukasi perlu dilakukan untuk menghindari korban dari bencana alam ini.
Poin penting ini diungkap oleh Dr Teguh Rahayu, Direktur Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, di sela kegiatan sekolah lapang gempa bumi di SMAN 3 Kota Sukabumi, Selasa 4 Agustus 2026. Menurut Rahayu, Sukabumi dilintasi sumber gempa bumi tektonik yaitu sesar darat yaitu cimandiri.
“Di Sukabumi ini lebih besar potensinya terjadi gempa tektonik. Salah satunya sumber pembangkit gempanya adalah sesar cimandiri, yang memiliki banyak segmen. Dengan potensi energi gempa yang berbeda-beda, bisa rilis per segmen atau semua segmennya bergerak bersamaan,” tegasnya.
Baca Juga: Intip Profil Sabah FC, Calon Lawan Persib Bandung di Dewata Challenge Series 2026
Rahayu membuka data, Catatan BMKG dari tahun 2026 hingga pekan pertama Agustus 2026 ada 188 kejadian gempa di wilayah Sukabumi Raya. Dimana 11 kejadian guncangan gempa bumi dirasakan oleh warga.
“Kapan terjadinya, kemudian berapa besarnya belum bisa dipastikan, walaupun kita bisa skenariokan potensi kekuatannya, berdasarkan sejarah gempa masa lalu,” ungkap Rahayu.
Untuk itu BMKG terus mendorong kegiatan - kegiatan seperti Sekolah Lapang Gempa Bumi yang bertujuan memperkuat mitigasi dan juga edukasi. “Apa sih yang harus dilakukan ketika terjadi gempa, setelah terjadi gempa, dan kemudian apa yang harus kita persiapkan untuk potensi itu terjadi. Dan ini harus dilatih,” pungkas Rahayu.
Baca Juga: Dewan Dadang Fasilitasi Aspirasi Tokoh Agama dan Masyarakat Purwasedar soal Penolakan Konser Reggae
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Wali Bobby Maulana mengutip data BPBD bahwa semua wilayah di Kota Sukabumi memiliki potensi tinggi terdampak gempa. Untuk itu perlu kesadaran seluruh warga untuk selalu mempelajari mitigasi bencana, khususnya gempa bumi.
“Saya pribadi nih nggak ngomongin yang lain. Ketika gempanya siang, sore mungkin kita masih bisa cari cara. Tapi kalau gempanya atas jam 12 malam, jam 1, jam 2. Beberapa kali saya di kasur pegang selimut, diam gitu, pegang gitu. Melalui kegiatan seperti ini saya pikir ini memberikan edukasi apa yang harus kita lakukan saat gempa kuat terjadi,” ucap Bobby.
Pemerintah daerah, lanjut Bobby saat ini terus mendorong edukasi mitigasi bencana, khususnya ke lembaga pendidikan, dan lingkungan terkecil di masyarakat. “Belajar bagaimana memperlindungi kepala, bagaimana kita jongkok itu sangat penting saya pikir. Hari ini penting bagaimana meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Gempa tidak bisa diprediksi. Tapi kita bisa berlatih bagaimana dan apa yang harus dilakukan jika gempa terjadi,” sambung Wakil Wali Kota Sukabumi.
Editor : Fitriansyah