Sukabumi Update

Konser Reggae di Purwasedar Sukabumi Batal Usai Ditolak Warga, Musisi Merasa Didiskreditkan

Ilustrasi. Ditolak tokoh agama dan warga, Konser Ombak Reggae di Purwasedar Ciracap Sukabumi akhirnya dibatalkan. Musisi minta tak ada stigma negatif terhadap musik reggae. (Sumber Foto: AI)

SUKABUMIUPDATE.com — Gelombang penolakan terhadap rencana konser musik reggae di Desa Purwasedar, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, memantik reaksi dari grup musik Ombak Reggae yang sedianya menjadi penampil utama dalam acara tersebut.

Musisi sekaligus pentolan Ombak Reggae, Rudiana Marvel, angkat bicara menyikapi polemik yang berujung pada pembatalan kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (8/8/2026).

Rudiana mengaku menyayangkan batalnya acara tersebut. Menurutnya, para musisi reggae hanya ingin menyalurkan kreativitas dan berekspresi melalui karya musik.

"Intinya saya selaku musisi musik reggae, dalam hal ini Ombak Reggae dan tentunya mungkin bersama teman-teman musisi yang lain, hari ini merasa didiskreditkan saja. Sebab kami itu kan berkreasi dan intinya berekspresi," ujar Rudiana kepada sukabumiupdate.com, Jumat (7/8/2026).

Baca Juga: Dewan Dadang Fasilitasi Aspirasi Tokoh Agama dan Masyarakat Purwasedar soal Penolakan Konser Reggae

Menurutnya, musik reggae merupakan salah satu bentuk seni yang memiliki ruang tersendiri di tengah masyarakat. Karena itu, ia berharap para musisi tetap diberi kesempatan untuk berkarya selama kegiatan dilaksanakan sesuai aturan yang berlaku.

Menanggapi kekhawatiran warga yang mengaitkan konser musik dengan potensi maraknya peredaran barang haram, Rudiana menegaskan bahwa komunitasi musik sejatinya berada di garis yang sama dalam memusuhi narkotika.

"Adapun permasalahan hari ini terkait dengan maraknya peredaran narkoba, itu menjadi musuh kita bersama. Saya sepakat bahwa narkoba musuh kita bersama," ujar Rudiana.

Ia berharap persoalan narkotika tidak serta-merta dikaitkan dengan genre musik tertentu sehingga tidak menimbulkan stigma terhadap para pelaku seni.

"Jadi intinya berilah ruang untuk kami, teman-teman musisi reggae khususnya, yang hari ini sedang dicekal, untuk bisa tampil dan berkreasi. Intinya kreativitas kami jangan dijegal," tegasnya.

Tidak Direkomendasikan, Acara Akhirnya Dibatalkan

Berdasarkan informasi yang dihimpun, penampilan Ombak Reggae semula direncanakan menjadi bagian dari acara peringatan hari jadi komunitas pengrajin dan penyadap gula kelapa di Desa Purwasedar, Kecamatan Ciracap.

Namun kegiatan tersebut dipastikan batal setelah muncul penolakan dari sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat, serta sebagian warga setempat.

Kapolsek Ciracap AKP Taufick Hadian mengatakan pihak kepolisian tidak memberikan izin terhadap kegiatan tersebut karena tidak adanya rekomendasi dari pemerintah desa maupun unsur Koramil.

Selain itu, sebelumnya tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat telah menyatakan sikap menolak pelaksanaan konser tersebut.

"Polsek tidak memberikan izin karena dari pihak desa dan Koramil tidak merekomendasikan. Apalagi sebelumnya tokoh masyarakat dan tokoh agama sudah melakukan deklarasi penolakan," ujar Taufick.

Poster teranyar terkait pembatalan konser ombak reggae di Purwasedar Ciracap.Poster teranyar terkait pembatalan konser ombak reggae di Purwasedar Ciracap.

Menurutnya, persoalan tersebut juga telah dibahas dalam pertemuan yang digelar pada Kamis (6/8/2026) malam dan melibatkan pemerintah desa, pemerintah kecamatan, unsur TNI-Polri, DPRD, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta pihak penyelenggara.

Dalam pertemuan itu, kepolisian turut memberikan masukan terkait situasi keamanan dan ketertiban masyarakat.

"Kemarin malam sudah ada pertemuan dan kami juga memberikan masukan. Akhirnya panitia memutuskan membatalkan konser reggae tersebut," jelasnya.

Sebelumnya, sejumlah warga menyampaikan kekhawatiran terhadap kondisi sosial masyarakat yang saat ini tengah menghadapi persoalan penyalahgunaan narkotika, obat-obatan terlarang, hingga aksi tawuran.

Meski demikian, Rudiana berharap polemik tersebut tidak menimbulkan pandangan negatif terhadap musik reggae maupun para pelaku seninya.

Menurut dia, musisi pada dasarnya hanya ingin menyampaikan karya dan hiburan kepada masyarakat dengan tetap menghormati norma serta aturan yang berlaku di lingkungan tempat mereka tampil.

"Kami menghormati keputusan yang diambil. Tetapi mudah-mudahan ke depan ada ruang dialog yang lebih baik sehingga musik reggae tidak selalu dipandang negatif," pungkasnya.

Editor : Denis Febrian

Tags :
BERITA TERKAIT