SUKABUMIUPDATE.com – Kemalangan bertubi-tubi menghampiri Muhibat (51), warga Kampung Simpenan RT 03/RW 01, Desa Purwasedar, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi.
Selama enam tahun terakhir, pria yang sebelumnya bekerja sebagai sopir elf jurusan Surade-Sukabumi itu hanya bisa terbaring lemah di rumah panggung sederhana miliknya.
Kondisi tersebut terjadi setelah Muhibat mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya yang membuatnya tidak lagi mampu bekerja maupun mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Berbagai upaya medis telah dilakukan keluarga demi kesembuhan Muhibat. Namun, pengobatan yang berlangsung cukup lama membuat kondisi ekonomi keluarga semakin terpuruk.
Baca Juga: Lokasi Tuhan Ditemukan Jaraknya 439 Miliar Triliun Kilometer dari Bumi, Klaim Ilmuwan Harvard
Harta benda yang dimiliki keluarga satu per satu terpaksa dijual untuk membiayai pengobatan. Bahkan, cicilan pinjaman di bank kini menunggak karena Muhibat sudah tidak memiliki penghasilan.
Di tengah kondisi tersebut, sang istri, Yansih (46), sempat mengambil keputusan berat. Ia berangkat menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Arab Saudi dengan harapan dapat memperoleh penghasilan untuk membiayai pengobatan suaminya.
Namun, nasib kembali tidak berpihak kepada keluarga tersebut. Yansih justru mengalami gangguan kesehatan pada bagian rahim saat bekerja di Arab Saudi.
Ia akhirnya dipulangkan oleh majikannya sebelum dapat mengumpulkan uang yang cukup untuk biaya pengobatan Muhibat.
"Saya nekat berangkat jadi TKW demi kesembuhan suami, tapi di sana saya sering sakit-sakitan di bagian rahim sampai akhirnya dipulangkan majikan. Harta sudah habis, anak perempuan satu-satunya juga sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu," ujar Yansih kepada Sukabumiupdate.com, Minggu (9/8/2026).
Baca Juga: 100 Yang Maha Kuasa, Prabowo Beri Nilai Dirinya: 98 Milik Presiden, Menteri Dapat 88-89
Sang istri mengatakan bahwa suaminya mengalami kelumpuhan ketika pada awalnya mengalami sakit panas biasa dan beberapa hari kemudian tidak bisa berjalan.
“Awalna mah biasa panas, berselang beberapa hari tidak bisa jalan,” kata Yansih.
Kini, pasangan suami istri tersebut tinggal berdua di sebuah rumah panggung sederhana berukuran sekitar 8x6 meter. Kesedihan keluarga semakin bertambah setelah mereka berjuang berdua dan tidak ada lagi anak yang dapat menjadi tempat bergantung dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Untuk beraktivitas, Muhibat kini mengandalkan kursi roda serta bantuan sang istri. Keluarga juga pernah mendapatkan bantuan modal berupa warung kecil dari Kementerian Sosial (Kemensos) beberapa tahun lalu.
“Dulu ada bantuan dari kemensos warung kecil2an senilai 5 juta, sama kursi roda sampai sekarang tidak ada lagi bantuan,” ucapnya lirih.
Baca Juga: Jorge Messi Meninggal Dunia di Usia 68 Tahun, Ayah Lionel Messi Tutup Usia
Namun, usaha kecil tersebut belum mampu mengangkat kondisi ekonomi keluarga secara signifikan. Persoalan lain muncul ketika Muhibat membutuhkan perawatan lanjutan. Meski telah memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS), keluarga mengaku masih kesulitan membawa Muhibat untuk mendapatkan rujukan dan perawatan di rumah sakit yang lebih besar.
Keterbatasan biaya operasional, termasuk kebutuhan transportasi dan bekal selama menjalani pengobatan, menjadi salah satu kendala utama.
Dalam kondisi yang semakin mendesak, Yansih berharap ada perhatian dari pemerintah maupun para dermawan agar suaminya dapat kembali memperoleh pengobatan yang layak.
Secara khusus, ia berharap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang dikenal dengan sapaan KDM dapat membantu proses pengobatan suaminya.
"Harapan kami ada dermawan atau pemerintah, khususnya Pak KDM, yang bisa membantu pengobatan suami saya sampai sembuh," tutur Yansih penuh harap.
Baca Juga: Susul Surken, Kawah Wadon Gunung Gede Pangrango Terbakar: Diduga Dipicu Faktor Alam
Yansih mengaku tidak banyak meminta. Ia hanya ingin suaminya mendapatkan kesempatan untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan secara maksimal setelah enam tahun berjuang melawan kondisi yang dialaminya.
Di rumah panggung sederhana itu, harapan untuk sembuh masih terus dipelihara. Di tengah keterbatasan ekonomi dan berbagai kehilangan yang telah mereka alami, Muhibat dan Yansih masih menunggu uluran tangan agar perjuangan mereka mendapatkan perawatan yang layak tidak berhenti di tengah jalan.
Editor : Ikbal Juliansyah