SUKABUMIUPDATE.com - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), drh Slamet, menyoroti aktivitas pembangunan yang diduga terkait fasilitas wisata di kawasan Jalan Lingkar Utara, dekat area Cinumpang, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi. Hal ini disampaikannya setelah ia mendatangi langsung lokasi pada Minggu, 9 Agustus 2026.
Menurut Slamet, di kawasan tersebut terlihat adanya dugaan pembabatan pohon yang diduga dilakukan untuk membuka akses jalan menuju vila dan pembangunan vila itu sendiri. Legislator asal Sukabumi yang duduk di Senayan ini menilai perubahan tutupan lahan di wilayah utara Sukabumi harus mendapat perhatian serius karena berpotensi menimbulkan dampak lingkungan jangka panjang.
“Atas nama ekonomi dan pariwisata, semua yang dulu ada pohonnya, dibabat untuk vila. Dibuat jalan untuk akses vila. Siap-siap Sukabumi utara kena bencana,” kata dia dalam keterangannya.
Baca Juga: Slamet Ikut Tanam Pohon di Purabaya, Dorong Gerakan Hijau Berbasis Masyarakat
Pernyataan itu bukan tanpa konteks. Sebagai anggota Komisi IV DPR RI yang membidangi kehutanan, lingkungan hidup, pertanian, dan kelautan, Slamet dikenal rutin menyuarakan isu kerusakan kawasan hutan dan alih fungsi lahan di Sukabumi. Ia menilai pembangunan wisata yang mengorbankan vegetasi di daerah resapan air, apalagi zona penyangga Gunung Gede Pangrango, dapat meningkatkan risiko banjir, longsor, hingga krisis air di wilayah hilir.
Kecamatan Kadudampit sendiri berada di kaki Gunung Gede Pangrango dan selama ini dikenal memiliki fungsi ekologis penting bagi wilayah Sukabumi bagian utara. Pembukaan lahan untuk jalan dan bangunan permanen di kawasan dengan kontur curam, dinilai berisiko mempercepat erosi dan mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan.
Slamet meminta pemerintah daerah dan instansi terkait menelusuri legalitas pembangunan, termasuk status lahan, izin lingkungan, dan kesesuaian tata ruang kawasan tersebut. Ia menegaskan pertumbuhan sektor pariwisata tidak boleh mengabaikan daya dukung lingkungan.
“Jangan sampai pariwisata menjadi alasan untuk menghabisi pohon dan merusak kawasan resapan. Yang menikmati mungkin segelintir orang, tetapi yang menanggung akibatnya seluruh masyarakat Sukabumi,” ujarnya.
Editor : Oksa Bachtiar Camsyah