SUKABUMIUPDATE.com - Menjelang peringatan HUT ke-81 RI, di pelosok Kabupaten Sukabumi justru terpotret ironi dunia pendidikan yang masih memprihatinkan. Ketika kemerdekaan yang semestinya dimaknai dengan hak memperoleh pendidikan yang layak dan nyaman, sebanyak 129 pelajar Sekolah Dasar Islam (SDI) Insan Mandiri di Kampung Cikondang, Desa Cihaur, Kecamatan Simpenan, masih harus menuntut ilmu di ruang kelas sempit dengan lantai berdebu.
Bangunan sekolah yang seharusnya menjadi tempat nyaman bagi anak-anak untuk belajar, justru mereka malah dihadapkan dengan lantai tanpa keramik yang berdebu, atap bocor, plafon rusak, hingga sejumlah ruang kelas yang belum sepenuhnya tertutup.
Mirisnya, ternyata kondisi tersebut bukan persoalan baru. Kerusakan bangunan disebut telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Pihak sekolah juga telah melaporkan kondisi tersebut melalui pengawas sekolah hingga Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi. Namun, hingga kini, perbaikan secara menyeluruh belum juga terealisasi.
Baca Juga: DPMPTSP Sukabumi Dorong Tuntas Studi Kelayakan Tol Jagoratu demi Gaet Investor
Kepala SDI Insan Mandiri, Baen, mengatakan kondisi bangunan sekolah mulai mengalami kerusakan sejak sekitar beberapa tahun yang lalu. Menurutnya, bangunan yang ada saat ini juga belum sepenuhnya memenuhi standar sebagai sarana pendidikan.
“Kerusakannya sudah lama. Mulai sekitar 2021 atau 2022,” ujar Baen kepada Sukabumiupdate.com, pada Jumat (14/8/2026).
Saat ini, sekolah tersebut hanya memiliki tiga ruangan utama. Salah satu ruang kelas bahkan hanya beralaskan tanah, tetapi tetap digunakan karena keterbatasan ruangan untuk belajar.
Kondisi tersebut membuat proses belajar mengajar harus dilakukan secara bergantian atau menggunakan sistem shift.
Baen mengungkapkan, ruang kelas yang digunakan siswa juga jauh dari kondisi ideal. Lantai sejumlah ruangan belum dilapisi keramik sehingga debu mudah beterbangan ketika kegiatan belajar berlangsung.
Tak hanya lantai, bagian atap dan plafon juga mengalami kerusakan. Material asbes yang digunakan pun sudah dalam kondisi lama sehingga membutuhkan perbaikan.
Baca Juga: Kevin Diks Berpeluang Kembali Bela Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026
“Belum ada biaya untuk keramik. Bukan hanya keramik, atap dan plafon juga perlu diperbaiki,” katanya.
Menurut Baen, debu yang beterbangan, air masuk saat hujan, serta bangunan yang mulai lapuk berpotensi mengganggu kenyamanan dan keselamatan siswa maupun guru.
Ia mengatakan kondisi sekolah sebenarnya telah tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dengan status kerusakan berat.
Baen juga mengungkapkan bahwa pihak sekolah juga telah berupaya mengajukan permohonan bantuan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi. Pengawas sekolah disebut sudah beberapa kali datang dan melihat langsung kondisi bangunan, namun tak kunjung realisasi.
“Kami sudah melaporkan kepada pengawas. Mohon dibantu diajukan untuk pembangunan ruang kelas baru atau rehab,” katanya.
Di tengah keterbatasan itu, keberadaan SDI Insan Mandiri tetap menjadi tumpuan pendidikan bagi masyarakat sekitar. Sekolah tersebut melayani anak-anak dari dua kedusunan yang sebelumnya tidak memiliki akses sekolah di sekitar wilayah mereka.
“Partisipasi masyarakat bagus. Tapi tentu kemampuan masyarakat juga terbatas,” ujar Baen.
Oleh karena itu, ia berharap pemerintah dan para pemangku kebijakan tidak menutup mata terhadap kondisi sekolah tersebut. Menurutnya, perbaikan bukan hanya menyangkut bangunan, tetapi menyangkut masa depan anak-anak yang setiap hari datang ke sekolah untuk belajar.
"Kami berharap pemangku kebijakan memberikan anggaran dan pembangunan secepatnya. Demi keamanan dan kenyamanan proses pembelajaran, baik guru maupun siswa, agar bisa belajar dengan aman, tenang dan nyaman," katanya.
Belajar di Tengah Debu dan Atap Bocor
Bukan hanya pelajar yang merasakannya, kondisi memprihatinkan itu juga turut di alami langsung oleh para guru. Ati Sulastri, wali kelas 5, mengatakan ruang kelas yang ditempati 24 siswa menjadi salah satu ruangan dengan kondisi paling buruk.
Setiap kali siswa bergerak, debu dari lantai mudah terangkat. Aktivitas sederhana seperti berjalan ke depan kelas saja dapat membuat debu beterbangan di sekitar ruangan.
Baca Juga: Puluhan Ribu Benur Selamat dari Penyelundupan, Dilepas di Pantai Sangrawayang Sukabumi
“Ini sangat mengganggu ketika sedang belajar. Ada anak yang jalan saja ke depan, debunya langsung terlihat,” kata Ati.
Ati mengaku persoalan semakin menghawaturkan itu ketika hujan turun, pasalnya atap yang bocor membuat air masuk ke ruang kelas dan terkadang mengenai buku-buku milik siswa.
Namun persoalan tidak berhenti di sana. Di beberapa bagian ruangan juga terdapat lubang yang menjadi tempat tikus keluar-masuk.
“Setiap pagi ada jejak tikus. Entah berapa banyak yang keluar dari sana. Intinya kelas ini sangat berdebu dan tidak layak ditempati belajar,” ujarnya.
Ati juga menyebutkan, ruang kelas 4 bahkan belum memiliki ruangan yang benar-benar tertutup dan memiliki pintu layak. Kondisi tersebut membuat hewan seperti ayam dan kucing dapat masuk ke ruang belajar, bahkan naik ke atas meja siswa.
Menurutnya, Idealnya, setiap tingkat kelas memiliki ruangan masing-masing. Namun keterbatasan bangunan membuat sejumlah kelas harus berbagi ruangan.
Baca Juga: Presiden Prabowo Sentil Kepala Daerah: Birokrasi Berbelit Pejabat Korup
"Kelas 1 masih menggunakan ruangan bersama kelas 3. Kelas 2 berbagi dengan kelas 4. Sementara kelas 5 dan kelas 6 juga harus belajar di ruangan yang kondisinya belum memadai," tuturnya.
“Harapannya ada yang mau membantu memperbaiki. Minimal kelas 5 dulu, karena kondisinya sangat memprihatinkan,” kata Ati.
Meski demikian, guru dan siswa tetap berusaha menjalankan kegiatan belajar mengajar. Mereka seolah dihadapkan pada pilihan sederhana namun pahit: belajar dalam kondisi seadanya atau kehilangan kesempatan untuk bersekolah.
“Daripada anak-anak tidak bersekolah, kami memaksakan untuk tetap fokus belajar walaupun dengan ruangan yang sangat seadanya,” ungkap Ati.
Suara Harapan dari Ruang Kelas
Di balik persoalan bangunan, ada suara anak-anak yang setiap hari menjadi saksi bagaimana pendidikan dijalankan dalam keterbatasan.
Elisa, 11 tahun, siswi kelas 6, mengatakan kondisi sekolah tersebut sudah dirasakan selama lebih dari tiga tahun.
Baginya, belajar di ruang kelas bukan selalu tentang buku, papan tulis dan pelajaran. Ada debu dan udara pengap yang harus ia rasakan hampir setiap hari.
“Kayak pengap, banyak debu,” kata Elisa singkat.
Meski begitu, ia tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Keinginannya sederhana yakni ruang kelas yang layak agar bisa belajar dengan nyaman.
Baca Juga: 7 Ide Kostum 17 Agustus yang Unik dan Menarik, dari Pahlawan hingga Merah Putih
“Harapannya ingin sekolah ini diperbaiki agar kami anak-anak bisa lebih nyaman untuk belajar,” tuturnya.
Kemudian dengan suara polosnya, Elisa meminta Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi atau sering disapa KDM untuk membangun sekolahnya.
“Pak Dedi, bangunin sekolah kami dong. Kami pengen belajar lebih nyaman," ungkap Elisa
Editor : Ikbal Juliansyah