SUKABUMIUPDATE.com - Dampak kemarau panjang mulai mengancam ketersediaan air bersih di kawasan Sukabumi Selatan. Warga di Desa Lembursawah, Kecamatan Pabuaran, dan Desa Cikangkung, Kecamatan Ciracap, kini harus bersusah payah mencari sumber air alternatif demi memenuhi kebutuhan harian.
Di Desa Lembursawah, sedikitnya tiga wilayah Rukun Tetangga (RT) mengalami krisis air bersih setelah wilayah tersebut tak diguyur hujan selama hampir tujuh bulan.
Sekretaris Desa Lembursawah, Mispalah, mengungkapkan kawasan yang terdampak meliputi Kampung Pareang RT 001/RW 002, Kampung Tipar RT 002/RW 002, dan Kampung Baru RT 005/RW 002.
Mispalah menjelaskan, selama ini warga di tiga kampung tersebut sangat bergantung pada jaringan pipanisasi. Namun akibat kemarau berkepanjangan, debit air yang mengalir kini menyusut drastis.
“Untuk pemenuhan kebutuhan air bersih, tiga RT ini mengandalkan pipanisasi. Namun debit airnya kecil sehingga masih kekurangan,” kata Mispalah kepada sukabumiupdate.com, Selasa (18/8/2026).
Baca Juga: 28 dari 47 Kecamatan di Kabupaten Sukabumi Rawan Kekeringan
Ia menjelaskan, sejumlah sumber air yang berada di setiap Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) sebenarnya masih mengalir. Namun, debitnya sangat kecil sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan warga.
“Di setiap DKM alhamdulillah masih ngocor, tetapi kecil, tidak bisa memenuhi kebutuhan,” ujarnya.
Gagal Bor Sumur 80 Meter, Warga Angkut Air Sungai Cikaso Pakai Mobil
Kondisi tersebut membuat sebagian warga harus mencari sumber air alternatif. Bahkan, di salah satu RT, warga terpaksa menggunakan mobil untuk mengambil air dari Sungai Cikaso.
“Di satu ke-RT-an malah sudah mengandalkan mobil mengambil air ke Sungai Cikaso untuk memenuhi kebutuhan air,” ungkapnya.
Upaya mencari sumber air baru juga telah dilakukan pemerintah desa bersama masyarakat. Beberapa kali pengeboran sumur dilakukan, namun hingga kedalaman sekitar 80 meter belum menemukan sumber air yang memadai.
“Sumur bor beberapa kali dibuat sampai kedalaman sekitar 80 meter, tetapi tidak ada airnya,” jelas Mispalah.
Sementara itu, sumur gali masih dapat menghasilkan air ketika hujan turun. Namun, akibat kemarau berkepanjangan, debit air sumur warga ikut menurun.
“Kalau turun hujan, sumur gali ada airnya. Tapi sekarang sudah sekitar enam sampai tujuh bulan tidak turun hujan,” katanya.
Mispalah berharap kondisi tersebut mendapat perhatian dan dukungan dari pihak terkait. Menurutnya, ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus segera diantisipasi apabila kemarau masih berlangsung.
Baca Juga: Pemkab Sukabumi Tetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan dan Kebakaran hingga September 2026
Sumur Mengering, Warga Desa Cikangkung Manfaatkan Air Sungai
Kondisi serupa terjadi di sebagian wilayah Desa Cikangkung, Kecamatan Ciracap. Sekretaris Desa Cikangkung, Herlan, mengatakan kekeringan mulai dirasakan warga di Kampung Nangkawangi dan Kampung Selagading.
Di Kampung Nangkawangi, sejumlah sumur galian milik warga sudah mengering. Sebagian masyarakat kemudian mulai memanfaatkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Di Kampung Nangkawangi sebagian sudah memanfaatkan air sungai,” kata Herlan.
Sementara di Kampung Selagading, warga memanfaatkan sumur galian baru yang berada di lahan milik warga yang rencananya akan digunakan untuk membangun rumah.
Kondisi ini menunjukkan dampak kemarau panjang mulai dirasakan di sejumlah wilayah Sukabumi Selatan. Warga pun harus mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari di tengah terbatasnya ketersediaan air bersih.
Editor : Denis Febrian