SUKABUMIUPDATE.com – Pernyataan mengejutkan Presiden Prabowo Subianto mengenai upah buruh pengupas bawang yang disebut mencapai Rp700 ribu per kilogram sempat menjadi perhatian publik. Angka tersebut ramai diperbincangkan karena dinilai berbeda dengan kondisi yang dialami sejumlah buruh pengupas bawang di lapangan.
Di Kota Sukabumi, misalnya, Yeyet, seorang buruh pengupas bawang di Pasar Tipar Gede, hanya menerima upah Rp10 ribu untuk setiap karung bawang yang dikupas.
Bagi Yeyet, pekerjaan tersebut menjadi ikhtiar untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya. Sejak pagi, ia sudah berada di pasar dengan pisau di tangan, mengupas bawang putih dan memisahkannya dari bonggol.
Setiap hari, Yeyet mampu menyelesaikan sekitar tiga hingga empat karung. Dengan upah Rp10 ribu per karung, penghasilannya hanya berkisar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu sehari.
“Satu hari kuatnya 3 atau 4 karung, dapat upahnya dihitung per karung. Satu karung itu Rp10.000,” ucap Yeyet, Rabu (19/8/2026).
Baca Juga: PMII Jabar Soroti Pertemuan Dedi Mulyadi-Syuriah NU: Tolak Politik Transaksional Jelang Muktamar
Setiap karung yang dikerjakannya berisi sekitar 20 kilogram bawang putih utuh. Pekerjaan tersebut dilakoni Yeyet selama empat hingga lima jam, mulai sekitar pukul 06.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB.
Perjuangan Yeyet mendapatkan penghasilan dimulai sejak pagi dari rumahnya di Selajambe, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi.
Untuk menuju Pasar Tipar Gede, ia harus menggunakan ojek dan angkutan kota. Ongkos perjalanan tersebut kemudian kembali mengurangi penghasilan yang diperolehnya dari mengupas bawang.
“Upahnya nanti suka buat ongkos ke sini, bayar ojek Rp10 ribu terus naik angkot Rp5 ribu. Alhamdulillah sisanya mah suka dibelikan beras, 2 liter mah,” terang Yeyet.
Dengan penghasilan maksimal Rp40 ribu sehari, sedikitnya Rp15 ribu harus disisihkan untuk ongkos perjalanan. Sisa uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Pekerjaan mengupas bawang juga bukan hal baru bagi Yeyet. Ia mengaku telah menjalani pekerjaan tersebut sejak anaknya masih berjumlah tiga orang. Kini, ia menyebut telah memiliki delapan anak.
Baca Juga: Enam Hari Tak Terlihat, Lansia Sebatang Kara di Simpenan Sukabumi Ditemukan Meninggal
Di tengah kondisi suaminya yang sudah lanjut usia, Yeyet tetap bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Setiap pagi, ia datang ke pasar dan menghabiskan waktu berjam-jam mengupas bawang. Hasilnya memang tidak besar, tetapi uang puluhan ribu rupiah itu tetap berarti untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Terkait pernyataan mengenai upah pengupas bawang yang mencapai Rp700 ribu, Yeyet mengaku tidak mengetahui kondisi buruh yang dimaksud.
Ia hanya mengetahui upah yang berlaku di tempatnya bekerja saat ini, yakni Rp10 ribu untuk satu karung bawang.
“Nya duka teu terang Umi mah, meureun hoyong. Da sakieu (satu karung) Rp10.000 upahnya. Di sini satu karung Rp10.000 upahnya,” kata Yeyet.
Baca Juga: Tiga Hari Dicari, Ahmad Nadif Terseret Ombak di Pantai Karangnaya Ditemukan Tewas
Jika memang ada pekerjaan mengupas bawang dengan bayaran seperti yang disebutkan tersebut, Yeyet mengaku tentu tertarik untuk mendapatkannya.
Bagi Yeyet, berapa pun upah yang diterima dari mengupas bawang tetap menjadi bagian dari perjuangannya memenuhi kebutuhan keluarga.
Meski hanya mendapatkan Rp10 ribu per karung, ia tetap datang ke Pasar Tipar Gede setiap pagi. Tiga hingga empat karung bawang ia kupas hingga tangannya lelah, sebelum akhirnya membawa pulang Rp30 ribu hingga Rp40 ribu untuk keluarganya.
Editor : Asep Awaludin