SUKABUMIUPDATE.com - Keterbatasan penglihatan tidak menjadi penghalang bagi para tunanetra untuk berkarya dan berdaya. Semangat tersebut diwujudkan Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) melalui Radio Suara ITMI, sebuah radio streaming yang dikelola dan dikembangkan bersama oleh para tunanetra.
Radio Suara ITMI diprakarsai oleh Drs. Toto Sugihatno bersama Pii Jali Padli. Kehadiran radio tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong kemandirian, kreativitas, sekaligus pemberdayaan tunanetra melalui pemanfaatan teknologi digital.
Mengusung motto “Satu Suara, 1000 Inspirasi”, Radio Suara ITMI ingin membuktikan bahwa suara tunanetra dapat menjadi media untuk menyampaikan informasi, membangun motivasi, sekaligus membuka peluang bagi sesama tunanetra untuk berkembang.
Pii Jali Padli mengatakan, radio tersebut tidak hanya diperuntukkan sebagai media hiburan atau tempat mendengarkan siaran. Lebih dari itu, Radio Suara ITMI menjadi ruang bagi tunanetra untuk belajar dan terlibat langsung dalam pengelolaan media.
Para tunanetra diberi kesempatan untuk menjalankan berbagai peran, mulai dari penyiar, reporter, pembuat program siaran hingga terlibat dalam pembuatan dan penawaran iklan.
“Satu Suara, 1000 Inspirasi bukan hanya sebuah motto, tetapi semangat untuk membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan bukanlah keterbatasan untuk berkarya dan memberikan manfaat kepada masyarakat,” demikian semangat yang dibawa Radio Suara ITMI.
Baca Juga: Pengawasan di Sukadamai, Jaenudin Soroti Nasib Anak Berkebutuhan Khusus di Sukabumi
Menurut Pii, keterlibatan langsung tersebut sekaligus menjadi sarana untuk mengasah berbagai kemampuan yang dapat menunjang kemandirian tunanetra. Di antaranya public speaking, teknologi informasi, jurnalistik, penyiaran, pembuatan konten hingga pengelolaan media digital.
Menariknya, Radio Suara ITMI saat ini masih beroperasi dengan peralatan yang relatif sederhana. Laptop dan telepon genggam menjadi perangkat utama yang digunakan untuk menjalankan siaran radio streaming.
Keterbatasan fasilitas tersebut tidak menyurutkan semangat para pengelola. Justru dari peralatan sederhana itulah para tunanetra terus belajar, berkreasi dan mengembangkan kemampuan agar Radio Suara ITMI dapat tumbuh menjadi media yang lebih profesional.
Ke depan, ITMI berharap Radio Suara ITMI dapat menjadi salah satu model pengelolaan radio streaming yang dilakukan oleh tunanetra di Indonesia.
Tak hanya sebagai ruang berekspresi, radio tersebut juga diarahkan untuk berkembang menjadi usaha yang profesional dengan studio representatif dan sistem manajemen yang lebih baik.
Baca Juga: Damkar Terkendala Akses Jalan, 3 Rumah di Permukiman Padat Cibadak Terbakar
Pii menilai potensi tersebut terbuka lebar karena banyak tunanetra yang memiliki kemampuan serta minat di bidang komunikasi dan media. Dengan pelatihan dan kesempatan yang tepat, kemampuan tersebut dapat dikembangkan menjadi keterampilan produktif sekaligus membuka peluang pekerjaan dan usaha.
Karena itu, ITMI juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi sosial, komunitas hingga media.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya memperluas jangkauan dan manfaat Radio Suara ITMI, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi tunanetra Muslim Indonesia.
Kehadiran radio ini sekaligus menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital dapat membuka ruang yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk menjadi pelaku aktif di dunia media dan ekonomi kreatif.
Radio Suara ITMI bukan sekadar tempat bersiaran. Bagi para pengelolanya, radio ini merupakan ruang belajar, ruang berkarya, ruang bersuara sekaligus ruang untuk membangun kemandirian ekonomi.
Dari sebuah laptop dan telepon genggam, para tunanetra berusaha melahirkan karya dan harapan baru. Dari sebuah siaran sederhana, mereka membangun keberanian untuk menunjukkan kemampuan.
Radio Suara ITMI dapat diakses masyarakat melalui browser maupun aplikasi Radio Suara ITMI. Siaran tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mendengarkan sekaligus mengenal lebih dekat karya dan aktivitas para tunanetra.
Semangat yang dibawa sederhana, tetapi memiliki pesan kuat: dari keterbatasan menuju kemandirian, dari suara menuju karya, dan dari kreativitas menuju peluang ekonomi.
Editor : Asep Awaludin