SUKABUMIUPDATE.com - Keluhan korban banjir bandang di Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, muncul dalam sebuah video. Hampir dua tahun setelah bencana beruntun menerjang, sebagian warga mengaku masih tidur di saung, menumpang ke kerabat, atau bertahan di rumah kontrakan tanpa kepastian.
Hal itu disampaikan melalui video yang beredar di media sosial dan ditujukan kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Rekaman tersebut muncul ketika Dedi mendapatkan sorotan karena justru mengunjungi wilayah terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan membawa bantuan senilai Rp 4,5 miliar bagi korban di sana.
Dalam video itu, sejumlah warga yang mengaku sebagai korban bencana menyampaikan kondisi mereka. Seorang laki-laki yang menjadi perwakilan mengatakan terdapat sekitar 46 kepala keluarga di Kampung Babakan Cisarua dan sekitarnya, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, yang masih menghadapi ketidakpastian kehidupan setelah bencana.
"Hapunten ka Bapak Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi, simkuring selaku warga Desa Cidadap, Kampung Babakan Cisarua, RT 02/15. Simkuring katitipan carios ku warga anu kena musibah tahun 2025, seueurna 46 kepala keluarga anu salama hampir dua tahun terlunta-lunta milarian kahirupan, sakitu susahna," ucap dia, dikutip sukabumiupdate.com.
Baca Juga: Cek Fakta: Video Dedi Mulyadi Bagi-Bagi Dana Bantuan Melalui Pesan WhatsApp
Ketua RT dalam video yang sama bahkan secara khusus meminta perhatian Dedi. Ia mengatakan kondisi ekonomi warga semakin sulit, termasuk untuk memenuhi kebutuhan dasar. "Pak Dedi Mulyadi, abdi memohon untuk meminta kebijakannya untuk warga kami, tidurnya ada yang ngontrak, makannya juga sudah istilahnya kadang beli beras kadang tidak."
Lalu seorang perempuan mengatakan masih menunggu kepastian mengenai bantuan biaya kontrak rumah sebesar Rp 10 juta. Ia meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak melupakan korban bencana di Desa Cidadap. "Belum mendapat kepastian mengenai uang pengontrakan Rp 10 juta dan tempat tinggal. Kami sangat mengharapkan Bapak Gubernur bantu kami juga."
Video keluhan warga Desa Cidadap kemudian direspons Dedi. Pada Minggu, 23 Agustus 2026, ia mengunggah jawaban melalui akun Instagram pribadinya. Dedi mengatakan telah berkomunikasi dengan Bupati Sukabumi pada malam sebelum memberikan jawaban ini. Menurutnya, persoalan warga Cidadap belum sepenuhnya dipahami pemerintah kabupaten.
"Hatur nuhun bapak dan ibu sudah menyampaikan keluhannya. Dan peristiwanya menurut bapak (dalam video) dua tahun yang lalu, tentunya sangat lama ya. Kepemimpinan saya baru berjalan 1,6 tahun dan saya tadi malam berkomunikasi dengan Bupati Kabupaten Sukabumi, menanyakan ini masalahnya apa. Nah beliau rupanya juga kurang begitu paham," kata dia.
Dedi selanjutnya meminta Pemerintah Kabupaten Sukabumi segera menyiapkan tanah bagi warga yang kehilangan rumah akibat bencana. Penyediaan lahan disebut menjadi syarat agar pemerintah provinsi dapat menyalurkan bantuan pembangunan rumah. "Kalau tanahnya tersedia, nanti kami memberikan bantuan pembangunan rumahnya," ujarnya.
Ia menyebut bantuan pembangunan rumah tersebut biasanya diberikan untuk rumah bergaya adat Sunda dengan nilai Rp 40 juta per rumah.
Persoalan warga Desa Cidadap sebenarnya bukan perkara baru. Pada Januari 2026, kondisi korban banjir bandang Sungai Cidadap di Kampung Babakan Cisarua pernah diberitakan sukabumiupdate.com. Saat itu, setahun setelah bencana pertama, masyarakat masih hidup tanpa kepastian relokasi maupun bantuan tempat tinggal.
Rumah-rumah warga di RT 02/15 Kampung Babakan Cisarua hancur rata dengan tanah, sebagian ambruk, dan sisanya terkubur pasir akibat terjangan banjir bandang. Bencana paling parah pada akhir Desember 2025 bahkan nyaris melenyapkan satu kampung.
Rangkaian bencana di wilayah itu telah berlangsung sejak 2024. Menurut keterangan warga yang dihimpun, peristiwa pertama terjadi pada Desember 2024, lalu banjir bandang Maret 2025, dan kembali terjadi bencana yang lebih parah pada Desember 2025. Rumah penduduk hanyut dan sebagian permukiman tidak lagi layak dihuni.
Di tengah situasi itu, warga Babakan Cisarua juga mempertanyakan bantuan biaya kontrakan Rp 10 juta yang sebelumnya telah diterima 23 kepala keluarga di Kampung Sawah Tengah, yang terdampak bencana pada Desember 2025. Sementara warga Babakan Cisarua yang telah berulang kali diterjang bencana belum memperoleh kepastian serupa.
Di ujung videonya, Dedi meminta maaf karena belum dapat memberikan layanan terbaik kepada seluruh warga. Ia juga mengakui pemerintah provinsi tidak selalu mengetahui persoalan di lapangan apabila tidak ada laporan dari bupati, camat, maupun kepala desa.
Editor : Oksa Bachtiar Camsyah