Sukabumi Update

Hindari Fragmentasi, GMNI Sukabumi Dorong Mahasiswa Bangun Gerakan Kolektif

Simposium Mahasiswa Sukabumi. (Sumber: Istimewa)

SUKABUMIUPDATE.com – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Sukabumi Raya, mendorong setiap elemen mahasiswa di Sukabumi dapat memperkuat konsolidasi lintas organisasi untuk menghadapi berbagai persoalan masyarakat dan kebangsaan.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Simposium Kebangsaan Mahasiswa Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di Sukabumi, Minggu (23/8/2026).

Dalam forum yang mengangkat tema “Berdikari dalam Pikiran, Bersatu dalam Perjuangan, Mahasiswa Pelopor Persatuan Bangsa” itu, Aris menjadi salah satu narasumber bersama sejumlah pimpinan organisasi mahasiswa, akademisi, dan perwakilan lembaga kemahasiswaan.

Aris menilai, momentum 81 tahun kemerdekaan harus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melakukan refleksi sekaligus mengevaluasi peran gerakan mahasiswa dalam menjawab persoalan masyarakat.

“Momentum ini harus menjadi ruang refleksi bagi seluruh generasi bangsa, khususnya mahasiswa. Karena kemerdekaan tidak cukup hanya diperingati melalui seremoni, tetapi harus menjadi kesempatan untuk menilai kembali perjalanan bangsa, membaca persoalan hari ini, serta menentukan arah perjuangan generasi muda ke depan, ujar Aris kepada sukabumiupdate.com. Senin (24/8/2026).

Baca Juga: Onimah Bertahan di Tengah Reruntuhan Banjir Cidadap, Tak Punya Uang untuk Mengontrak Rumah

Ketimpangan sosial dan ekonomi, persoalan pendidikan, kualitas demokrasi, kesempatan kerja, persoalan lingkungan, perkembangan teknologi, serta berbagai bentuk ketidakadilan masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi kelompok yang memberikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Mahasiswa juga harus mampu membaca persoalan secara mendalam, melakukan kajian, membangun gagasan, serta menghadirkan gerakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam forum tersebut adalah fragmentasi gerakan mahasiswa. Perbedaan organisasi dan latar belakang dinilai tidak seharusnya menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk membangun agenda bersama melalui sebuah gagasan ‘Sukabumi Plus’.

“Karena itu, dibutuhkan ruang baru yang mampu mempertemukan berbagai organisasi, kelompok, komunitas, dan elemen gerakan mahasiswa di Sukabumi dalam semangat dialog, solidaritas, dan kerja bersama,” kata dia.

Sukabumi Plus tidak dimaksudkan untuk menggantikan organisasi yang telah ada. Ruang tersebut justru diarahkan menjadi titik temu bagi mahasiswa untuk berdialog, melakukan kajian, membangun solidaritas, serta menyusun agenda bersama berdasarkan persoalan yang dihadapi masyarakat.

Baca Juga: Ikan Lisong dan Deles Kembali Melimpah di Perairan Geopark Ciletuh, Nelayan Sukabumi Sumringah

Aris menilai, konsolidasi lintas organisasi menjadi penting agar gerakan mahasiswa memiliki daya kritis dan daya tawar yang lebih kuat ketika merespons persoalan publik.

Selain memperkuat konsolidasi, mahasiswa juga didorong untuk memperluas cara pandang dalam membaca persoalan. Isu global dan nasional perlu dikaitkan dengan kondisi daerah sehingga gerakan mahasiswa tidak berhenti pada persoalan yang bersifat parsial.

Persoalan yang muncul dari masyarakat, kata Aris dalam forum tersebut, perlu didengar, dikaji, didokumentasikan, kemudian dibawa menjadi isu publik dan agenda gerakan mahasiswa.

“Dengan demikian, gerakan mahasiswa tidak berhenti pada reaksi terhadap persoalan lokal secara parsial, tetapi mampu membangun rantai kesadaran dan perjuangan dari bawah ke atas (bottom-up),” ucapnya.

Aris juga menekankan pentingnya mahasiswa memiliki kemandirian dalam berpikir di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital.

Momentum tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk menggeser gerakan mahasiswa dari pola yang terfragmentasi menuju konsolidasi yang lebih kuat, terbuka, kritis, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.

Editor : Asep Awaludin

Tags :
BERITA TERKAIT