Sukabumi Update

Debit Bendungan Ciletuh Sukabumi Menurun, Dasar Sungai Mulai Terlihat

Aliran sungai ciletuh Sukabumi mengering (Sumber: sukabumiupdate)

SUKABUMIUPDATE.com – Debit air Bendungan Sungai Ciletuh yang berada di perbatasan Desa Tamanjaya, Kecamatan Ciemas, dengan Desa Caringin Nunggal, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, mulai mengalami penurunan seiring berlangsungnya musim kemarau.

Kondisi tersebut membuat sebagian dasar Sungai Ciletuh mulai terlihat. Material pasir dan tanah di sejumlah titik pun mulai tampak akibat menyusutnya debit air di bendungan yang selama ini menjadi salah satu sumber utama pasokan air bagi masyarakat.

Yanto, warga Desa Cibenda, mengatakan Bendungan Ciletuh selama ini menjadi tumpuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pertanian maupun kebutuhan rumah tangga, terutama bagi warga di wilayah Kecamatan Ciemas, Waluran hingga sebagian Kecamatan Ciracap.

Baca Juga: UPTD BP Mektan Konsisten Gotong Royong Jalankan Gerakan ASRI Program Gubernur Jabar

Namun, memasuki musim kemarau tahun ini, debit air bendungan disebut mengalami penurunan cukup cepat. Bahkan, belum sampai empat bulan musim kemarau berlangsung, sebagian dasar sungai sudah terlihat.

“Bendungan Ciletuh ini selama ini menjadi tumpuan masyarakat ketika musim kemarau. Tapi tahun ini penurunan debit airnya terjadi lebih cepat. Belum sampai empat bulan, airnya sudah turun cukup drastis dan sebagian dasar sungai sudah terlihat, material pasir dan tanah juga mulai tampak,” ujar Yanto kepada Sukabumiupdate.com, Senin (23/8/2026).

Menurutnya, dampak penyusutan debit air tersebut mulai dirasakan masyarakat. Pasokan air melalui saluran irigasi menuju sejumlah wilayah bahkan sudah tidak lagi mengalir. 

Baca Juga: Fenomena Banjir Saat Kemarau di Tegalbuleud: Bugel Muara Cikaso Sukabumi Mulai Rendam Sawah, Rumah dan Jalan

“Untuk pasokan ke wilayah Desa Cibenda dan Sidamulya di Kecamatan Ciemas, termasuk ke wilayah Kecamatan Ciracap melalui saluran irigasi, sekarang sudah tidak ada airnya,” katanya.

Yanto menilai, kondisi tersebut diduga tidak hanya dipengaruhi faktor musim kemarau. Kerusakan lingkungan di kawasan hulu Sungai Ciletuh yang berada di kawasan Hutan Pasirpiring, Kecamatan Waluran, juga diduga turut mempengaruhi ketersediaan air yang mengalir ke bendungan.

Menurut dia, masih adanya dugaan aktivitas tambang emas ilegal serta berkurangnya tutupan vegetasi akibat pembukaan lahan dan penebangan pohon menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.

Baca Juga: DPRD Sukabumi Soroti Legalitas SPPG: Dari Ratusan Dapur MBG, Baru 3 Kantongi PBG

“Sumber air Sungai Ciletuh ada di kawasan Hutan Pasirpiring. Di sana masih ada aktivitas tambang emas ilegal, ditambah banyak lahan yang terbuka karena penebangan. Kondisi itu diduga ikut memengaruhi ketersediaan air,” ungkapnya.

Ia berharap kondisi di kawasan hulu Sungai Ciletuh mendapat perhatian serius dari pihak terkait. Selain menjaga sumber air bagi masyarakat, penanganan terhadap kerusakan lingkungan dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan pasokan air ke wilayah pertanian dan permukiman warga di Ciemas, Waluran hingga Ciracap.

Yanto berharap upaya perlindungan kawasan hulu Sungai Ciletuh dapat dilakukan secara berkelanjutan agar sumber-sumber mata air tetap terjaga, terutama di tengah ancaman musim kemarau yang berpotensi semakin panjang.

Editor : Fitriansyah

Tags :
BERITA TERKAIT