Sukabumi Update

SPBU Cikidang-Bagbagan Sukabumi Tutup, Solar Langka Lumpuhkan Ekonomi Nelayan hingga Petani

Sejumlah warga protes meminta SPBU Bagbagan di Palabuhanratu Sukabumi untuk kembali beroperasi kembali. (Sumber : Istimewa.)

SUKABUMIUPDATE.com – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar mulai menjadi persoalan serius bagi masyarakat Kabupaten Sukabumi. Tidak beroperasinya sejumlah SPBU di wilayah Cikidang dan Bagbagan dalam waktu cukup lama berdampak terhadap aktivitas perekonomian warga, terutama masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari pekerjaan sehari-hari.

Dampak paling terasa dirasakan oleh nelayan, petani, sopir angkutan, hingga buruh harian. Sulitnya mendapatkan solar membuat aktivitas mereka terganggu. Bahkan, sebagian warga terpaksa menghentikan sementara pekerjaan karena tidak memiliki bahan bakar untuk mengoperasikan kendaraan maupun peralatan kerja.

Salah seorang nelayan, Age, warga Kampung Bagbagan RT 01/RW 01, Desa Jayanti, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, mengaku dampak penutupan SPBU bukan sekadar persoalan sulit mendapatkan BBM. Menurutnya, kondisi itu telah menyentuh langsung sumber penghasilan masyarakat kecil.

"Ya kang, penghentian operasional SPBU tersebut mematikan urat nadi perekonomian masyarakat kelas bawah yang bergantung penuh pada pasokan solar harian," ujar Age saat ditemui awak media, Senin (24/8/2026).

Baca Juga: Bertaruh Nyawa Warga Tegalbuleud Perbaiki Jembatan Bambu di Dermaga Pasir Besi, Lokasi Tragedi Maut!

Age menuturkan, nelayan kini kesulitan melaut karena pasokan solar tidak mudah didapat. Ketika kapal tidak bisa berangkat, otomatis pendapatan keluarga ikut terhenti.

Persoalan serupa, kata dia, juga dialami para petani yang membutuhkan solar untuk mengoperasikan traktor dan mesin pertanian. Sopir truk serta buruh harian pun ikut merasakan dampaknya karena biaya operasional meningkat sementara pemasukan justru menurun.

"Nelayan tidak bisa melaut karena kehabisan solar. Petani kesulitan menjalankan traktor dan mesin pertanian. Sopir truk dan buruh harian juga kehilangan pendapatan. Kami warga miskin semakin terpuruk akibat tutupnya SPBU ini," ungkapnya.

Menurut Age, persoalan tersebut telah menciptakan efek domino. Ketika BBM sulit diperoleh, masyarakat harus mencari pasokan ke lokasi yang lebih jauh. Akibatnya, biaya transportasi dan modal kerja membengkak.

Baca Juga: KRL Bakal Diperpanjang ke Cigombong? Ini 10 Destinasi Wisata yang Bisa Dikunjungi

Bagi nelayan, tambahan biaya untuk mendapatkan solar dapat menggerus keuntungan dari hasil tangkapan. Sementara bagi petani, meningkatnya biaya bahan bakar membuat ongkos produksi semakin berat.

Tak hanya itu, tekanan ekonomi juga disebut mulai merembet ke persoalan utang rumah tangga. Warga yang kehilangan penghasilan harian terpaksa mencari pinjaman untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun menutup kewajiban usaha.

Masyarakat menilai penghentian operasional SPBU di kawasan tersebut telah menimbulkan sejumlah dampak sosial-ekonomi yang serius.

Pertama, warga yang mengandalkan penghasilan harian semakin rentan kehilangan pendapatan. Ketika nelayan tidak melaut atau petani tidak dapat mengoperasikan mesin, maka tidak ada pemasukan yang bisa dibawa pulang.

Baca Juga: Bukit Lembur Geulis Naringgul Cianjur, Tempat Camping dengan Suasana Kampung Sunda

Kedua, kebutuhan mendapatkan BBM dari lokasi yang lebih jauh membuat biaya operasional meningkat. Kondisi ini semakin membebani masyarakat yang sebelumnya sudah berhadapan dengan pendapatan yang terbatas.

Ketiga, tekanan ekonomi berpotensi membuat sebagian warga mencari sumber pembiayaan lain, termasuk pinjaman online (pinjol), untuk menutup kebutuhan sehari-hari maupun kewajiban kredit usaha.

Masyarakat juga menyoroti adanya dugaan intervensi oknum pejabat publik yang disebut-sebut berkaitan dengan penghentian operasional SPBU tersebut.

Namun, tudingan tersebut masih berupa keluhan dan dugaan dari masyarakat dan memerlukan klarifikasi serta pembuktian dari pihak-pihak terkait. Karena itu, informasi mengenai penyebab penghentian operasional SPBU perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.

Baca Juga: KDM: ABK Asal Sukabumi dan Indramayu yang Terlantar di Fiji Dipastikan Pulang 1 September 2026

Bagi warga, persoalannya sederhana: mereka membutuhkan kepastian akses BBM agar dapat kembali bekerja dan menghidupi keluarga.

"Yang kami minta bukan sesuatu yang berlebihan. Kami hanya ingin bisa bekerja dan mencari nafkah seperti biasa," kata Age.

Masyarakat mendesak pihak terkait, termasuk PT Pertamina Patra Niaga, segera memberikan penjelasan mengenai kondisi SPBU di wilayah Cikidang dan Bagbagan.

Mereka juga meminta agar operasional SPBU dapat segera dipulihkan apabila tidak terdapat persoalan hukum maupun administratif yang menghalangi, sehingga masyarakat kembali mendapatkan akses BBM dengan harga dan distribusi yang wajar.

Baca Juga: dokter Relawan Sukabumi Temukan Warga Penyintas Gempa NTT Alami Hipertensi dan Dehidrasi

Bagi masyarakat kecil, keberadaan SPBU bukan sekadar tempat membeli bahan bakar. Di balik setiap liter solar, ada perahu yang harus berangkat melaut, traktor yang harus bekerja di sawah, truk yang harus mengangkut barang, serta keluarga yang menunggu penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Jika akses terhadap solar terhenti terlalu lama, kekhawatiran warga bukan hanya soal antrean atau kelangkaan BBM. Yang dipertaruhkan adalah keberlangsungan mata pencaharian mereka.

Hingga berita ini ditayangkan, awak media masih berupaya mendapatkan keterangan resmi dari PT Pertamina Patra Niaga terkait penghentian operasional SPBU di wilayah Cikidang dan Bagbagan serta langkah yang akan dilakukan untuk mengatasi keluhan masyarakat.

 

Editor : Ikbal Juliansyah

Tags :
BERITA TERKAIT