SUKABUMIUPDATE.com – Polisi tengah menyelidiki penyebab kebakaran tumpukan limbah kayu veneer di Kampung Pondok Bitung, RW 07, Desa Kertaraharja, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi.
Sehari setelah kebakaran yang melanda area tersebut, petugas kepolisian mulai mengumpulkan bahan dan keterangan (pulbaket) dari sejumlah pihak untuk memastikan penyebab kebakaran sekaligus menentukan pihak yang bertanggung jawab.
Kapolsek Cikembar Polres Sukabumi, Iptu Yadi Suryadi, mengatakan penyelidikan masih berlangsung. Pihaknya belum menyimpulkan apakah kebakaran disebabkan kelalaian atau terdapat unsur kesengajaan.
“Kami sedang menyelidiki dan mengumpulkan bahan keterangan di lapangan untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab,” kata Yadi kepada sukabumiupdate.com, Jumat (28/8/2026).
Ia memastikan pemeriksaan akan dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya terhadap warga di sekitar lokasi. Polisi juga akan meminta keterangan dari pemilik lahan, pihak perusahaan yang berkaitan dengan pengelolaan limbah, pemerintah desa, hingga Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi.
Baca Juga: Pengelola Penampungan Limbah Kayu di Cikembar Diperiksa Usai Kebakaran 24 Jam
Pemanggilan DLH dilakukan untuk mendalami aspek perizinan dan pengelolaan limbah di lokasi tersebut.
“Semua pihak terkait akan diperiksa, termasuk pemanggilan DLH mengenai perizinan,” tegasnya.
Yadi juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, khususnya selama musim kemarau.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah sembarangan atau membuang puntung rokok di area yang rentan terbakar,” tutur Yadi.
Sementara itu, kebakaran yang terjadi sejak Kamis (27/8/2026) siang masih menyisakan bara hingga Jumat. Kondisi tersebut membuat petugas pemadam kebakaran harus melakukan penanganan lebih lanjut karena material limbah kayu veneer yang menumpuk cukup tebal.
Kepala Bidang Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Sukabumi, Hendra Setiawan, mengatakan berdasarkan informasi yang diterima petugas, kebakaran diduga bermula dari aktivitas pembakaran di sekitar lokasi.
"Kemarin itu sebelum Zuhur ada aktivitas pembakaran. Karena angin kencang, api merembet ke tumpukan limbah tripleks hingga terjadi kebakaran hebat," ujar Hendra.
Namun, dugaan tersebut masih menjadi bagian dari informasi awal dan penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan kepolisian.
Hendra menjelaskan, proses pemadaman cukup sulit karena limbah veneer dalam kondisi kering dan telah menumpuk selama bertahun-tahun. Api tidak hanya membakar tumpukan limbah kayu, tetapi juga merambat ke area pepohonan bambu dan ilalang di sekitar lokasi.
Luas area yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar satu hektare.
Baca Juga: Wakil Bupati Sumedang Diterpa Isu Dugaan Pelecehan Seksual ke Sekretaris Pribadi
Dalam proses penanganan, DPKP Kabupaten Sukabumi mengerahkan sembilan unit armada pemadam kebakaran gabungan. Armada tersebut berasal dari sejumlah pos Damkar, di antaranya Pos Cikembar, Cibadak, dan Cisaat, serta mendapat bantuan dari Yonif 310, SCG, dan GSI.
Petugas juga masih disiagakan di tempat kejadian kebakaran (TKK) untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api dan mencegah perambatan menuju permukiman warga.
"Petugas disiagakan di TKK guna mencegah api merambat ke permukiman warga yang berjarak sekitar 300 meter," pungkasnya.
Sebelumnya, Kasi Trantib Kecamatan Cikembar, Andi membenarkan bahwa pengelola tempat penampungan limbah tersebut telah dipanggil oleh pihak kepolisian untuk proses penanganan lebih lanjut.
"Untuk pemilik atau pengelola lahan hari ini sedang dipanggil oleh pihak yang berwajib (kepolisian)," ujar Andi, Jumat (28/8/2026).
Menurut Andi, aktivitas penampungan limbah kayu di lokasi tersebut sebelumnya sempat dihentikan oleh DLH, Satpol PP Kabupaten Sukabumi, serta Forkopimcam Cikembar pada 2024 lalu.
Penghentian tersebut dilakukan karena adanya aktivitas pembakaran limbah secara sengaja. Setelah itu, limbah kayu yang terkumpul hanya ditumpuk dan dibiarkan mengalami proses pembusukan secara alami.
Editor : Denis Febrian