SUKABUMIUPDATE.com - Musim kemarau mulai membuat warga Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, kesulitan mendapatkan air bersih. Sumur-sumur warga yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan rumah tangga perlahan mengering. Air yang sebelumnya mudah diperoleh kini harus dicari hingga ke sumber lain yang jaraknya cukup jauh dari permukiman.
Kondisi itu salah satunya dialami Fahmi (52), warga Kampung Sewah Lega. Hampir setiap hari, ia harus mengendarai sepeda motor sejauh sekitar dua kilometer menuju sumber air Cigembang.
Bukan untuk keperluan lain, perjalanan tersebut dilakukan demi membawa pulang air untuk keluarganya. Di bagian belakang sepeda motornya, beberapa galon dan jeriken telah disiapkan. Satu per satu wadah itu diisi air sebelum dibawa kembali ke rumah.
Namun, sekali perjalanan belum cukup. Fahmi bahkan harus bolak-balik hingga beberapa kali dalam sehari karena air yang dibawanya hanya mampu memenuhi kebutuhan untuk sekali pemakaian.
"Sumur-sumur pada kekeringan. Hampir sebulan," ujar Fahmi saat ditemui, Senin (31/8/2026).
Baca Juga: Pemkot Sukabumi Gelar Gerakan Pangan Murah di Lembursitu, Harga Sembako Disubsidi
Menurut Fahmi, kekeringan terjadi setelah musim kemarau berlangsung sekitar tiga bulan. Sumur yang sebelumnya menjadi tumpuan warga kini tidak lagi bisa diandalkan.
"Kalau kemarau mah sudah tiga bulan sekarang," katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Fahmi biasanya mendatangi sumber air Cigembang pada pagi atau sore hari. Air yang dibawa diprioritaskan untuk kebutuhan penting, seperti minum dan memasak.
"Kalau nyuci mah datang ke sini. Kalau buat minum aja," ucapnya.
Jumlah air yang dibawa dalam satu perjalanan pun harus disesuaikan dengan kemampuan kendaraan dan kebutuhan keluarga. Beberapa wadah sekaligus dibawa, tetapi tetap belum mampu bertahan lama.
"Ini sudah dua balik, kadang-kadang empat balik," katanya.
Air yang diambil umumnya hanya cukup untuk sekali penggunaan. Setelah habis, perjalanan menuju sumber air kembali harus dilakukan.
"Untuk sekali pakai. Kan banyak orangnya," ujarnya.
Baca Juga: Skena Musik Sukabumi Makin Menggeliat, 16 Band Lokal Tampil di AMPLIFY FEST Vol. 1
Dalam sehari, Fahmi bisa menempuh perjalanan hingga empat sampai lima kali untuk mengambil air. Jarak sekitar dua kilometer membuat penggunaan sepeda motor menjadi pilihan dibandingkan berjalan kaki.
"Kalau jalan mah enggak kuat," katanya.
Bagi Fahmi, kondisi sumur mengering bukan persoalan yang baru pertama kali terjadi. Beberapa musim kemarau sebelumnya, warga juga pernah mengalami kesulitan mendapatkan air, meski kondisi tersebut tidak selalu terjadi setiap tahun.
"Ya, kemarau-kemarau kemarin juga sama kayak gini. Tapi enggak setiap kemarau sih. Tiga tahun ke belakang tuh," ujarnya.
Sumber air Cigembang juga bukan satu-satunya lokasi yang menjadi tumpuan warga. Sebagian masyarakat memilih mencari air ke lokasi lain, salah satunya wilayah Cikombo.
Warga yang mengalami kesulitan air pun tersebar dan tidak seluruhnya mengambil air di satu sumber yang sama.
"Keseluruhan banyak, cuma enggak ke satu tempat ini ngambilnya," katanya.
Di tengah kondisi tersebut, bantuan air bersih dari pemerintah menjadi salah satu harapan warga. Fahmi mengatakan, pada musim kemarau sebelumnya pernah ada penyaluran air menggunakan mobil tangki.
Baca Juga: Nasib PPPK di Ujung Ketidakpastian, Honorer Sukabumi Desak Pemerintah Terbitkan Regulasi
Namun, untuk kondisi kemarau kali ini, bantuan serupa belum kembali diterima warga di wilayahnya.
"Kalau kemarin-kemarin mah pernah, kalau sekarang belum ada," ucapnya.
Menurut Fahmi, bantuan air menggunakan mobil tangki biasanya hanya mampu memenuhi kebutuhan warga selama beberapa hari. Lama pemakaian bergantung pada kapasitas tempat penampungan air yang dimiliki masing-masing rumah.
"Kadang dua hari sekali kayaknya," katanya.
Kondisi ini membuat warga harus mencari cara sendiri agar kebutuhan air tetap terpenuhi. Bagi Fahmi, perjalanan berulang kali menuju sumber air menjadi rutinitas yang harus dijalani selama sumur warga belum kembali terisi.
Ia berharap persoalan kekeringan tidak hanya ditangani ketika musim kemarau tiba. Menurutnya, diperlukan sumber air yang lebih permanen agar warga tidak terus bergantung pada sumber air yang lokasinya cukup jauh.
Salah satu solusi yang diharapkannya adalah pembangunan sumur bor yang dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar.
"Harapannya ya dikasih sumur bor lebih baik, supaya masyarakat di sekitar situ bisa ada air," ujarnya.
Editor : Asep Awaludin