Sukabumi Update

Potret Geopark Ciletuh di Puncak Kemarau, Sawah Hijau Berubah Jadi Hamparan Tandus

Potret bukit panenjoan di Desa Tamanjaya, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, nampak tandus di tengah kemarau. Selasa (1/9/2026). (Sumber: SU/Ragil Gilang)

SUKABUMIUPDATE.com – Wajah kawasan Geopark Ciletuh di Kabupaten Sukabumi berubah drastis saat memasuki puncak musim kemarau. Hamparan persawahan yang biasanya menghijau kini berubah menjadi daratan kering dengan ilalang yang menguning.

Pemandangan tersebut terlihat jelas dari Bukit Panenjoan, Desa Tamanjaya, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Selasa (1/9/2026).

Terik matahari yang menyengat ditambah hembusan angin cukup kencang membuat suasana di kawasan perbukitan tersebut terasa semakin panas dan kering.

Bukit Panenjoan selama ini dikenal sebagai salah satu tempat singgah favorit wisatawan maupun warga lokal yang melintas di jalan provinsi ruas Mareleng-Tamanjaya.

Dari atas bukit, pengunjung biasanya disuguhi panorama persawahan yang membentang di wilayah Desa Tamanjaya, Desa Mekarsakti hingga Desa Ciwaru.

Baca Juga: Sumur Mengering, Warga Cicurug Rela Bolak-balik 5 Kali Sehari Demi Mendapatkan Air Bersih

Namun, panorama tersebut kini berubah. Hamparan hijau yang biasanya menjadi daya tarik kawasan hampir tidak terlihat. Sebagian besar lahan persawahan dan perbukitan tampak mengering, sementara ilalang berwarna kuning memenuhi sejumlah area pertanian dan lereng perbukitan.

Perubahan warna lanskap tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana panjangnya musim kemarau mulai mengubah wajah kawasan pedesaan di sekitar Geopark Ciletuh.

Warga Ciemas, Aga (45), mengatakan kondisi tersebut terjadi karena wilayahnya sudah cukup lama tidak diguyur hujan.

"Sekarang memang lagi puncaknya musim kemarau. Sudah hampir lima bulan tidak turun hujan," kata Aga kepada Sukabumiupdate.com saat ditemui di kawasan Bukit Panenjoan, Selasa (1/9/2026).

Menurutnya, kemarau panjang membuat kondisi persawahan dan perbukitan semakin tandus. Rumput serta ilalang yang mengering juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran lahan.

Baca Juga: Nasib PPPK di Ujung Ketidakpastian, Honorer Sukabumi Desak Pemerintah Terbitkan Regulasi

"Persawahan dan perbukitan sekarang tandus. Alang-alang juga sudah kering, jadi rawan kebakaran. Debit air sungai sudah turun drastis, curug-curug juga sudah pada mengecil airnya," ujarnya.

Aga menyebut perubahan kondisi alam tersebut cukup mudah terlihat dari Bukit Panenjoan. Jika pada musim penghujan kawasan ini menyajikan hamparan persawahan hijau, kini panorama yang terlihat didominasi warna cokelat dan kuning akibat lahan yang mengering.

Kondisi tersebut sekaligus menjadi gambaran dampak musim kemarau terhadap kawasan pedesaan di sekitar Geopark Ciletuh.

Bukan hanya mengubah panorama alam, kemarau panjang juga mulai berdampak terhadap ketersediaan air. Debit sungai yang terus menurun dan menyusutnya aliran air di sejumlah curug menjadi perhatian warga, terlebih jika kondisi kering berlangsung lebih lama.

Di tengah kondisi tersebut, warga berharap hujan segera turun. Selain mengembalikan pasokan air bagi lahan pertanian, hujan juga diharapkan dapat mengurangi risiko kebakaran yang mengintai akibat vegetasi yang semakin mengering.

Pemandangan dari Bukit Panenjoan kini menjadi potret lain Geopark Ciletuh: bukan lagi hamparan hijau yang menyegarkan mata, melainkan lanskap kering yang menunjukkan kerasnya musim kemarau tahun ini.

Editor : Asep Awaludin

Tags :
BERITA TERKAIT