Sukabumi Update

Sumur Mengering, Warga Desa Cisaat Cicurug Sukabumi Sejak Dini Hari Berburu Air Bersih

Warga Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, mengambil air bersih di sumber air Cikombo, Sabtu (5/9/2026). (Sumber : Istimewa.)

 

SUKABUMIUPDATE.com - Jarum jam bahkan belum menunjukkan pukul 07.00 pagi, namun sejumlah warga Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, sejak dini hari mulai mendatangi sumber air Cikombo, Sabtu (5/9/2026).

Mereka datang membawa berbagai wadah untuk memenuhi kebutuhan air di rumah. Sebagian warga menggunakan sepeda motor untuk mengangkut air, sementara lainnya menggunakan mobil.

Salah seorang warga, M. Irfan Maulana (24), mengatakan warga terpaksa mencari air hingga dini hari karena sumber air di sekitar permukiman mulai mengering setelah kemarau berlangsung sekitar tiga bulan. Dimana menurutnya terdapat sekitar 500 KK yang terdampak akibat musim kemarau tersebut.

"Biasanya ada dari jam 3 subuh berangkatnya, sambil nyuci di Cikombo," ujar Irfan, kepada Sukabumiupdate.com.

Baca Juga: Bappenas Gandeng Pers yang BEJO’S Sebagai Mitra Strategis dalam Pembangunan Nasional

Menurutnya, aktivitas mengambil air ke Cikombo maupun Cigembang telah dilakukan warga selama hampir dua bulan terakhir. Sebelumnya, kebutuhan air sehari-hari masih mengandalkan sumur di sekitar rumah.

Namun, sumur-sumur tersebut kini mulai mengering. Warga pun memanfaatkan sejumlah sumber air yang masih tersedia, termasuk sumur milik sebuah vila yang airnya diberikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Iya, pakai sumur. Ini pun pakai sumur yang dapat dari vila, ada yang ngasih buat warga. Tapi kan warganya saking banyaknya suka ngantri, kadang malam hari suka ke Cikombo ataupun ke Cigembang," katanya.

Karena harus berbagi dengan banyak warga, antrean di lokasi penampungan air terkadang cukup panjang. Ketika antrean mencapai sekitar lima hingga 10 orang, sebagian warga memilih mencari air ke sumber Cikombo atau Cigembang.

Baca Juga: Suara Dentuman Hebohkan Bandung, BMKG: Bukan Anak Krakatau Juga Gempa Tapi Ada Anomali

Warga yang mencari air berasal dari sejumlah kampung, di antaranya Kampung Gang Menteng, Tenjolaya, Kampung Baru, Kampung Gamblok dan Sawah Lega.

Jarak yang harus ditempuh pun mencapai sekitar satu kilometer menuju Cikombo meskipun masih dalam kawasan Desa Cisaat. Sementara jika menuju Cigembang, jaraknya sekitar satu hingga dua kilometer dari titik permukiman warga.

Setibanya di sumber air, warga tidak hanya mengambil air untuk dibawa pulang. Sebagian juga langsung mencuci di lokasi tersebut.

Air yang dibawa pulang kemudian digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, terutama memasak dan berwudhu. Untuk mencuci, sebagian warga memilih melakukannya langsung di sumber air.

Baca Juga: Desa Wisata Hanjeli Sukabumi Jadi Ruang Belajar 45 Kampus dari Seluruh Indonesia

"Kadang kebutuhan buat masak, buat wudhu. Mereka kalau nyuci langsung di lokasinya," ucap Irfan.

Kebutuhan air yang cukup banyak membuat warga tidak cukup hanya sekali datang dalam sehari. Irfan menyebut, dalam kondisi tertentu, warga bisa bolak-balik hingga 10 kali.

"Bolak-balik kadang ada sampai 10 kali. Karena penampungan air di rumahnya, bak di rumahnya kecil. Jadi enggak cukup lima balik ataupun enam balik," katanya.

Aktivitas tersebut harus dilakukan setiap hari. Sebab, air yang dibawa dari sumber air hanya menjadi persediaan untuk memenuhi kebutuhan sementara di rumah.

Menurut Irfan, kondisi seperti ini bukan baru terjadi pada musim kemarau tahun ini. Setiap kali kemarau datang, warga di wilayah tersebut sudah terbiasa mencari air ke Cikombo maupun Cigembang.

Baca Juga: Generasi Indonesia Bertutur: Ketika Indonesia Berhadapan dengan Disrupsi

"Setiap kemarau harus gitu. Setiap tahun kalau ada kemarau selalu ke Cigembang, Cikombo, gitu jalan alternatifnya," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan sehari-hari warga ikut terdampak. Ketika persediaan air di rumah habis, warga dapat kesulitan memenuhi kebutuhan untuk memasak maupun berwudhu.

"Dampaknya sih susah buat wudhu kadang kalau enggak ada stok air di rumah buat wudhu sama masak," katanya.

Meski harus mencari air cukup jauh, warga sebelumnya sempat mendapatkan bantuan distribusi air bersih satu kali. Penyaluran tersebut melibatkan PMI Kabupaten Sukabumi, P2BK Cicurug, Bagana Sukabumi, ASB, Satpol PP, serta perangkat Desa Cisaat.

Baca Juga: Goa Putih Sukabumi, Wisata Alam Tersembunyi di Hutan Gunung Walat untuk Pecinta Susur Goa

Irfan mengatakan bantuan tersebut cukup membantu warga memenuhi kebutuhan air bersih di tengah kondisi kemarau.

"Berharap sih adanya pengiriman air lagi. Kemarin sempat ada pengiriman air dari AQUA kerja sama sama PMI Kabupaten Sukabumi, alhamdulillah terbantu warga. Diharapkan sih ada lagi," ucapnya.

Selain bantuan air bersih untuk kebutuhan saat ini, Irfan berharap ada solusi yang dapat digunakan warga dalam jangka panjang, salah satunya pembangunan sumur bor di setiap kampung.

Menurutnya, keberadaan sumber air permanen akan membantu warga ketika musim kemarau kembali terjadi.

Baca Juga: Wisata Alam Baru di Sukabumi, Saung Gunung Camp Tawarkan Panorama dari 800 Mdpl

Mengutip data dari BMKG, berdasarkan jumlah ZOM (Zona Musim) pada saat ini sebanyak 81,1% wilayah Indonesia (567 ZOM) tengah mengalami Musim Kemarau termasuk diantaranya Jawa Barat. Bahkan pada periode 01 - 10 September 2026 Sukabumi masuk kedalam kategori AWAS potensi terjadi kekeringan meteorologis.

 

 

Editor : Ikbal Juliansyah

Tags :
BERITA TERKAIT