SUKABUMIUPDATE.com – Penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dari SPBU Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, ke wilayah Agrabinta, Kabupaten Cianjur, mendadak jadi sorotan warga setempat.
Warga mempertanyakan aktivitas pembelian Pertalite menggunakan jeriken atau kompan yang kemudian dibawa ke wilayah Agrabinta.
Mereka juga menyoroti informasi adanya pemberian uang sebesar Rp10.000 untuk setiap pengisian satu jeriken atau kompan di Pom Bensin yang berlokasi di Desa/Kecamatan Tegalbuleud tersebut.
Salah seorang warga yang meminta identitasnya tidak disebutkan mengatakan, Pertalite tersebut diduga dibeli menggunakan sepeda motor, kemudian dipindahkan ke dalam mobil untuk dibawa ke wilayah Agrabinta.
“BBM disalurkan ke Agrabinta, Cianjur. Pembeli diduga menggunakan motor, kemudian BBM ditampung ke mobil. Ada juga dugaan biaya cor per jerigen atau kompan,” ujar warga tersebut.
Baca Juga: Matangkan Skema E-Voting Pilkades 2027, DPMD Sukabumi Bakal Studi Banding ke Cianjur
Warga juga mempertanyakan mekanisme pembelian BBM bersubsidi menggunakan jeriken. Menurutnya, pembelian dengan cara tersebut seharusnya diperuntukkan bagi kebutuhan tertentu, seperti nelayan dan sektor pertanian, dengan ketentuan serta dokumen rekomendasi dari instansi terkait.
“Jeriken itu kan peruntukannya untuk nelayan dan pertanian. Itupun harus ada surat rekomendasi dari dinas terkait. Kalau benar disalurkan ke pengecer, tentu harus ada penjelasan,” katanya.
Informasi yang diterima warga menyebutkan Pertalite tersebut selanjutnya dibawa ke wilayah Agrabinta dan diduga diperuntukkan bagi pengecer.
Pengawas SPBU Beri Penjelasan
Pengawas SPBU Tegalbuleud, Bayu Firmansyah, membenarkan adanya penyaluran Pertalite untuk kebutuhan di wilayah Agrabinta. Namun, ia menjelaskan penyaluran tersebut dilakukan secara terbatas karena SPBU Agrabinta sementara ditutup untuk perbaikan.
Menurut Bayu, penyaluran tersebut dilakukan berdasarkan rekomendasi Dinas Perikanan Kabupaten Cianjur dan Pertamina. Untuk sementara, kebutuhan BBM masyarakat, khususnya nelayan di Agrabinta, dialihkan ke SPBU terdekat, salah satunya SPBU Tegalbuleud.
“Jadi SPBU Agrabinta itu ditutup untuk perbaikan, terhitung dari tanggal 1 September sampai tanggal 15 sekarang. Jadi untuk sementara ada rekomendasi dari Dinas Perikanan Kabupaten Cianjur dan Pertamina. Diisi dulu di SPBU terdekat yakni SPBU Tegalbuleud, tapi itupun tidak semuanya,” ujar Bayu kepada sukabumiupdate.com, Jumat (11/9/2026).
Baca Juga: Saan Mustopa Dorong Solusi Permanen Atasi Krisis Air di Desa Sukamaju Sukabumi
Ia mengatakan, jumlah Pertalite yang disalurkan untuk kebutuhan nelayan di Agrabinta juga dibatasi. Hal itu dilakukan agar kebutuhan masyarakat di wilayah Tegalbuleud tetap dapat terpenuhi.
“Paling dibatasi cuma sekitar 3 sampai 4 ton untuk kebutuhan nelayan di Agrabinta. Soalnya kami punya stok sekitar 16 ton-an per harinya. Kami tetap memberikan pelayanan kepada warga lokal, prioritas utama pengendara roda dua dan roda empat,” jelasnya.
Dengan demikian, menurut Bayu, penyaluran Pertalite ke Agrabinta bukan dilakukan untuk mengambil alih kebutuhan BBM di wilayah tersebut, melainkan sebagai langkah sementara selama SPBU Agrabinta menjalani perbaikan.
Bantah Uang Cor Rp10.000 Jadi Pungutan Wajib
Sementara mengenai informasi adanya uang cor sebesar Rp10.000 setiap pengisian satu jeriken Pertalite, Bayu membantah jika uang tersebut merupakan pungutan wajib dari pihak SPBU.
Ia menegaskan tidak ada nominal tertentu yang diwajibkan kepada pembeli. Menurutnya, pelayanan pengisian BBM tetap dilakukan meski pembeli tidak memberikan uang tambahan.
“Itu terserah mereka mau ngasih berapa, ya silakan. Tidak juga tidak apa-apa. Tidak ada kewajiban,” tegasnya.
Bayu mengatakan, nominal uang yang diberikan pembeli juga tidak selalu Rp10.000. Ia menyebut ada pembeli yang memberikan Rp5.000 maupun Rp4.000.
Baca Juga: Disperkim dan BPBD Sukabumi Dampingi Wakil Ketua DPR RI Kunker Spesifik Ke Desa Sukamaju
Menurut Bayu, uang yang diberikan tersebut digunakan untuk sejumlah kebutuhan, termasuk pemeliharaan fasilitas SPBU, kesejahteraan karyawan, serta kegiatan sosial di lingkungan sekitar.
“Dibagi-bagi juga. Ada buat perbaikan. Sekarang banyak perbaikan, rehabilitasi SPBU, seperti toilet. Itu sama kita dibagi-bagi, enggak buat total kita,” katanya.
Ia menjelaskan, pemeliharaan fasilitas menjadi salah satu kebutuhan karena SPBU harus memenuhi standar yang ditetapkan Pertamina.
“Pemeliharaan, karena SPBU sekarang ada standarisasinya dari Pertamina. Kalau kita ada permintaan, misalkan ini harus diperbaiki, kadang pemilik bilang tunggu dulu karena harus dihitung dulu. Nah, dari uang itu nanti kita alokasikan, oh ini buat perbaikan,” jelasnya.
Selain untuk pemeliharaan, dana tersebut menurut Bayu juga dialokasikan untuk membantu kesejahteraan karyawan.
“Selain buat perbaikan, kesejahteraan karyawan di kita juga kurang. Salah satunya buat menambal kekurangan teman-teman,” ujarnya.
Bayu menambahkan, SPBU Tegalbuleud ke depan juga berencana membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) atau pengecer agar memiliki barcode untuk pembelian BBM sesuai ketentuan.
“Kedepan kami pun akan membantu untuk UMKM agar mereka punya barcode untuk pembelian,” pungkasnya.
Editor : Denis Febrian