Sukabumi Update

Leuwi Pangawaren Hulu Cikaso Keruh, Tradisi Warga Lengkong Sukabumi Perlahan Hilang

Kondisi aliran Leuwi Pangawaren yang menjadi bagian dari hulu Sungai Cikaso di Desa/Kecamatan Lengkong Kabupaten Sukabumi. Air yang dahulu jernih kini keruh dan dangkal. (Sumber Foto: Istimewa)

SUKABUMIUPDATE.com – Leuwi Pangawaren di Desa Lengkong, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, kini tak lagi sejernih dulu. Kawasan hulu Sungai Cikaso yang menyimpan kenangan kolektif dan kearifan lokal warga setempat tersebut hancur akibat pendangkalan dan pencemaran air.

Dahulu, Leuwi Pangawaren bukan sekadar lintasan air. Lokasi ini menjadi sarana interaksi sosial warga melalui tradisi turun-temurun, seperti ngaliwet ka Pangawaren (makan nasi liwet bersama di tepi sungai) hingga nyaba ka Pangawaren (bermain dan menangkap ikan).

Warga setempat, Ibeng (42), menuturkan bahwa rusaknya ekosistem sungai secara perlahan telah memusnahkan kebiasaan adat masyarakat Lengkong.

“Dulu tempat itu sering menjadi bagian dari cerita warga di sini. Ada istilah ngaliwet ka Pangawaren, nyaba ka Pangawaren. Sekarang tradisi seperti itu sudah tidak ada lagi. Ya, karena kondisi alamnya, sungainya sudah rusak, tidak jernih lagi. Airnya pun sudah keruh,” ujar Ibeng kepada sukabumiupdate.com, Sabtu (12/9/2026).

Baca Juga: Cuaca Jabar 12 September 2026, Akhir Pekan Sukabumi Potensi Berawan hingga Hujan

Dugaan Tambang Liar Marak, Bentang Ekosistem Hulu Terancam

Ibeng membeberkan, bentang sungai di Lengkong ini mengalir mengaliri kawasan Cibungur, Leuwi Sintok, Cikaler, hingga Cimapag di Desa Bantaragung, Kecamatan Jampangtengah, sebelum akhirnya menyatu ke jaringan utama Sungai Cikaso di Pabuaran, Sagaranten, dan Kalibunder.

Ia menduga kuat maraknya aktivitas pendeplangan atau penambangan material batuan dan pasir secara liar (tambang ilegal) menjadi biang kerok hancurnya bentang alam hulu Cikaso.

“Kerusakan alam hari ini adanya pendeplangan yang sudah masif dengan alasan perut,” kata Ibeng prihatin.

Padahal menurutnya, keberadaan aliran sungai tersebut masih memiliki peran penting bagi masyarakat, terutama saat musim kemarau. Air sungai masih dimanfaatkan warga untuk memenuhi berbagai kebutuhan.

“Padahal aliran air tersebut pada musim kemarau banyak digunakan warga,” katanya.

Baca Juga: Solidaritas Jurnalis Sukabumi untuk 5 Wartawan yang Hilang Saat Liputan Erupsi Anak Krakatau

Ibeng menyayangkan kerusakan lingkungan yang terjadi akibat aktivitas penambangan material yang dinilai semakin masif. Ia berharap persoalan tersebut mendapat perhatian karena bukan hanya menyangkut kelestarian lingkungan, tetapi juga keberlangsungan sumber air bagi masyarakat.

Sementara itu, Camat Lengkong Dadun mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti laporan warga mengenai kondisi aliran sungai tersebut.

Ia menyebut akan segera berkoordinasi dengan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Lengkong untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan sekaligus menentukan langkah tindak lanjut.

Masyarakat berharap adanya pengawasan dan penindakan hukum yang konkrit dari aparat penegak hukum dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Bagi warga Lengkong, menyelamatkan Leuwi Pangawaren bukan sekadar menjaga pasokan air, melainkan menyelamatkan warisan sejarah dan identitas kebudayaan lokal dari ancaman kepunahan.

Editor : Denis Febrian

Tags :
BERITA TERKAIT