Sukabumi Update

Gurandil Kabur Usai Viral, Pemkab Sukabumi Ungkap Kerusakan DAS Cikaso Dampak Tambang Emas

Tim gabungan Pemkab Sukabumi cek kerusakan sungai cikaso di Sagaranten dampak tambang emas ilegal (Sumber: sukabumiupdate)

SUKABUMIUPDATE.com - Pasca diprotes warga, aktivitas puluhan orang yang melakukan aktivitas tambang emas liar atau gurandil di daerah aliran sungai atau DAS Cikaso, Sagaranten Kabupaten Sukabumi kini menghilang alias kabur. Jajaran Pemerintah Kabupaten Sukabumi yang melakukan pengecekan ke lokasi hanya menemukan kerusakan daerah aliran sungai cikaso di Kampung Bojongkoneng, yang sebelumnya ditambang secara ilegal.

Pengecekan ini dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sukabumi bersama Forkopimcam Sagaranten dan pemerintah desa,di aliran Sungai Cikaso, Kampung Bojongkoneng, Desa Datarnangka, Kecamatan Sagaranten, Senin (21/9/2026). Monitoring tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut atas pengaduan masyarakat melalui Surat Perintah Tugas Nomor 300.1.2.1/2369/Gakda-2026 tertanggal 20 September 2026. 

Hasil pemeriksaan petugas menemukan banyak kubangan atau genangan yang diduga merupakan bekas aktivitas tambang emas ilegal. Tak ada satupun pelaku tambang yang ada di lokasi tersebut saat sidak ini berlangsung. Termasuk peralatan tambang seperti mesin penyedot sudah tak lagi ada di lokasi tersebut.

Baca Juga: Nilai Pasar Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Capai Rp399,6 Miliar, Tertinggi di Grup A

Kasatpol PP Kabupaten Sukabumi Deni Yudono menyampaikan, monitoring dilakukan sebagai tindak lanjut laporan masyarakat sekaligus langkah pencegahan agar tidak kembali terjadi aktivitas penambangan yang tidak sesuai ketentuan. “Pemda memberikan imbauan kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan, khususnya kawasan sempadan Sungai Cikaso,” tegasnya. 

Camat Sagaranten Hodan Pirmansyah menjelaskan aktivitas tambang liar di lokasi tersebut berpotensi mengganggu maupun menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan di kawasan sungai. Dia menyoroti dugaan aktivitas tambang emas yang menggunakan peralatan mesin diesel. 

Menurutnya, penggunaan alat tersebut perlu menjadi perhatian karena dinilai sudah jauh dari karakteristik pertambangan tradisional dan berpotensi berdampak terhadap lingkungan. "Apalagi ada kegiatan tambang emas yang menggunakan alat-alat seperti diesel dan yang lainnya, jauh dari sifat ketradisionalan," ungkapnya.

Baca Juga: CEK FAKTA: Detik Beritakan Menkeu Suahasil Korupsi Rp500 Triliun itu Hoaks

Menurut Hodan, monitoring dan imbauan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kawasan sempadan Sungai Cikaso tetap memberikan manfaat bagi masyarakat luar.

Menghilang Pasca Viral

Warga setempat, Ohan, mengatakan aktivitas penambangan sudah tidak terlihat sekitar dua hari terakhir setelah video dugaan aktivitas tambang tersebut ramai beredar di media sosial. Menurut Ohan, para penambang yang sebelumnya beraktivitas di lokasi bukan merupakan warga Desa Datarnangka.

"Sudah sekitar dua hari tidak ada. Semenjak videonya viral di media sosial, penambangnya sudah tidak kelihatan," kata Ohan.

Baca Juga: Tabrak Lari? Laka di Jalur Lingsel Sukabumi, Kaki Pemotor Terluka Diduga Terlindas Truk

Ia menambahkan, warga selama ini mengeluhkan kondisi air Sungai Cikaso, terutama saat musim kemarau. Air sungai yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat menjadi keruh sehingga sulit digunakan.

"Kalau musim kemarau, air Cikaso ini sangat dibutuhkan warga. Tapi kalau airnya keruh, jadi tidak bisa digunakan," ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan PSDA Provinsi Jawa Barat direncanakan melakukan pengecekan ke lokasi pada Selasa (22/9/2026). Dalam kegiatan tersebut juga direncanakan pemasangan banner himbauan di sekitar lokasi sebagai langkah pencegahan dan pengawasan.

Editor : Fitriansyah

Tags :
BERITA TERKAIT