Sukabumi Update

Keluhan Limbah SPPG Parungseah Sukabumi, Warga Minta Aliran Pembuangan Tak Lewati Permukiman

Kepala SPPG Parungseah saat menunjukkan IPAL yang mengalami kerusakan. (Sumber: SU/Asep Awaludin)

SUKABUMIUPDATE.com – Video keluhan warga terkait pembuangan limbah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Parungseah, Kabupaten Sukabumi, viral di media sosial. Warga mengeluhkan adanya aliran limbah yang dibuang melalui selokan dan menimbulkan bau tak sedap di sekitar permukiman.

Keluhan tersebut disampaikan warga Desa Parungseah, Kecamatan Sukabumi, yang meminta agar aliran pembuangan limbah dari SPPG tidak lagi melewati kawasan permukiman.

Ketua RW 04 Desa Parungseah, Heru Darmawan, mengatakan persoalan tersebut sebenarnya sudah beberapa kali dikeluhkan warga kepada pihak SPPG.

Menurutnya, warga telah menyampaikan komplain sebanyak tiga kali terkait aliran pembuangan limbah yang melintasi kawasan permukiman.

“Sebetulnya, awal mulanya warga ingin aliran pembuangan limbah itu jangan sampai melintasi perkampungan atau permukiman. Bahkan sudah dua kali komplain ke sini (SPPG) dan ini yang ketiga kali,” kata Heru kepada sukabumiupdate.com pada Jumat (25/9/2026).

Baca Juga: Bantah Gelapkan TR4, Tani Merdeka Sukabumi: Alat Dipinjamkan ke Petani yang Membutuhkan

Heru menjelaskan, warga sebenarnya tidak mempersoalkan keberadaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tersebut. Warga hanya meminta agar jalur pembuangan limbah dialihkan ke lokasi yang sebelumnya telah disepakati.

“Permintaan kami sederhana, ingin dialihkan ke tempat yang sudah ditentukan dari awal dengan Pak Kades, lewat gorong-gorong. Jadi kalau itu sudah terealisasi, insyaallah kami juga akan mendukung MBG yang ada di sini,” ujarnya.

Ia menyebut warga yang sebelumnya menyampaikan keluhan juga telah diajak berkoordinasi. Hasilnya, warga sepakat tidak akan kembali mempersoalkan persoalan tersebut apabila aliran limbah tidak lagi diarahkan ke kawasan permukiman.

“Kami sudah koordinasi juga dengan warga yang komplain. Alhamdulillah kita sepakat kalau misalkan sudah pindah, tidak ada jalur air limbah ke sana (permukiman), insyaallah kita pun tidak akan komplain lagi,” katanya.

Heru mengungkapkan, salah satu persoalan yang dirasakan warga adalah munculnya bau amis atau anyir dari aliran limbah yang berada di sekitar permukiman.

Menurutnya, bau tersebut terutama dirasakan oleh warga yang rumahnya berdekatan dengan jalur pembuangan.

“Salah satunya bau amis, bau hanyir. Walaupun tadi sudah ada obat dan lain sebagainya, mungkin tidak semuanya kena. Jadi nanti kalau tidak lewat kampung, insyaallah aman,” ujarnya.

Baca Juga: Guruh Soekarnoputra, Putra Bungsu Soekarno, Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun

Heru mengatakan persoalan tersebut sebenarnya belum berlangsung lama dan tidak dirasakan seluruh warga.

“Belum lama sebetulnya, cuma mungkin ada beberapa warga saja yang merasakan karena buangnya dekat rumah dia. Kalau yang lain aman. Yang dekat rumah pembuangan aliran air limbah itu saja yang bau,” jelasnya.

Karena itu, warga berharap pengalihan jalur pembuangan dapat segera direalisasikan.

“Penginnya memang secepatnya dipindahkan. Jadi biar warga pun merasa komplainnya ditanggapi. Silakan nanti dari pihak SPPG untuk segera merealisasikan hal tersebut,” katanya.

Sementara itu, Kepala SPPG Parungseah, Alfridus Klau, memberikan klarifikasi terkait video yang beredar di media sosial mengenai pembuangan limbah tersebut.

Alfridus menjelaskan, pembuangan sementara dilakukan karena mesin Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) mengalami gangguan dan dalam proses perbaikan.

“Tanggapannya itu karena mesin (IPAL) untuk sementara mati, jadi karena keadaan darurat kita buangnya disedot. Untuk sementara kita lagi perbaikan mesinnya,” kata Alfridus.

Baca Juga: Gunung Luhur Sukamakmur, Pilihan Pendakian Singkat untuk Menikmati Panorama Bogor

Ia menyebut, selain mesin mengalami gangguan, terdapat pula pipa yang bocor sehingga menyebabkan aliran pembuangan menjadi tidak terkontrol. “Itu kepenuhan dan ada pipa yang bocor juga,” ujarnya.

Alfridus memastikan pihak SPPG akan kembali menggunakan jalur pembuangan yang telah disepakati bersama warga setelah perbaikan IPAL selesai.

“Untuk selanjutnya kita akan membuang ke area yang sudah disepakati sama Pak RW sama Pak RT,” katanya.

Terkait keluhan mengenai bau, Alfridus mengatakan limbah yang keluar dari proses pengolahan tidak berbau karena sebelumnya telah diberikan bahan pengurai.

Menurutnya, limbah tersebut berasal dari aktivitas pencucian ompreng atau wadah makanan yang digunakan dalam program MBG.

“Kalau limbahnya sih keluarnya tidak berbau. Karena sudah dikasih bakteri aerob, bakteri pengurai, sama kaporit. Jadi pas keluarnya itu tidak berbau,” jelasnya.

Ia menerangkan, limbah dari pencucian ompreng terlebih dahulu masuk ke bak penampungan sebelum dialirkan menuju instalasi pengolahan.

“Pertama dari limbah cuci ompreng. Jadi pas dimasukkan di bak penampung, disalurkan ke IPAL di atasnya. Itu ada tiga,” katanya.

Dalam proses tersebut, limbah diberikan bakteri aerob yang berfungsi membantu menguraikan kandungan organik. Setelah melalui proses pengolahan hingga air menjadi lebih jernih, barulah air tersebut dibuang.

“Dikasih bakteri aerob yang pengurai, habis diurai sampai airnya jernih baru dibuang,” pungkasnya.

Editor : Asep Awaludin

Tags :
BERITA TERKAIT