SUKABUMIUPDATE.com - Petrus Pallangan (74) warga Kampung Bakti, Desa Cimahi, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, ditemukan meninggal di rumahnya Jumat 25 September 2026 sekitar pukul 11.40 WIB. Polisi kini menelusuri dugaan pembunuhan dibalik kematian dosen ber KTP Cimahi yang juga dikenal warga sekitar sebagai kontraktor bos sumur bor skala industri.
Suasana sepi di sebuah rumah toko di Desa Cimahi, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, mendadak berubah setelah pemiliknya, ditemukan meninggal dunia di dalam rumahnya. Jasad pria yang diketahui telah sekitar delapan tahun tinggal di rumah tersebut ditemukan dalam kondisi mengenaskan membusuk dan dipenuhi belatung.
Kini polisi membuka penyelidikan dugaan pembunuhan atas kematian Petrus Pallangan, berdasarkan temuan dan informasi dari keluarga khususnya anak korban. Kasat Reskrim Polres Sukabumi Iptu Dudi Suharyana membenarkan bahwa saat ini penyidik tengah mendalami orang-orang yang pernah berhubungan maupun memiliki kedekatan dengan korban sebelum kematiannya.
Menurut Dudi, langkah tersebut dilakukan setelah polisi menemukan sejumlah kejanggalan saat melakukan olah TKP awal. Beberapa barang dilaporkan hilang, berdasarkan pengakuan dari anak korban.
Baca Juga: Pria Cimanggu Sukabumi Ditemukan MD, Tergantung di Pinggir Gerbang Tol Jatiasih Bekasi
Selain itu, keberadaan orang terdekat korban sebelum ditemukan meninggal yaitu ART berinisial Ag yang hingga saat ini belum ditemukan juga menjadi tanda tanya besar.
“Saat ini ada pihak atau orang yang memang sedang kami cari untuk pendalaman,” kata Dudi.
Polisi tengah mengumpulkan bukti untuk menguatkan dugaan terhadap pihak yang sedang didalami. "Ada kemungkinan itu termasuk orang yang dekat. Kemudian kita sedang mengumpulkan bukti persesuaian antara sangkaan dengan orang dimaksud," pungkasnya.
Penyidik Polres Sukabumi juga masih menunggu hasil otopsi jenazah korban di RS Kramat Jati Jakarta. Otopsi diminta oleh anak korban, yang merasa curiga dengan kematian ayahnya.
Baca Juga: 14 Link Twibbon Hari Batik Nasional Lengkap dengan Ide Caption Untuk Media Sosial
Kesaksian Ketua RT
Ketua RT 03/01 Desa Cimahi, Abdul Salam mencerita bagaimana penemuan jasad korban pada hari itu. Bermula ketika ia dihubungi oleh mantan asisten rumah tangga (ART) korban sekitar pukul 10.00 WIB.
Menurut Abdul, mantan ART tersebut mengabarkan bahwa anak korban sedang dalam perjalanan dari Jakarta menuju Sukabumi meminta bantuan untuk mengecek kondisi ayahnya. "Anaknya minta tolong di cek karena di telpon HP-nya tidak aktif. Nomor pembantunya juga sama, tidak aktif. Anaknya sedang perjalanan dari Jakarta ke sini," ujar Abdul kepada sukabumiupdate.com pada Kamis (1/10/2026).
Saat itu, Abdul kemudian mendatangi rumah korban. Namun, pintu rumah dalam kondisi terkunci. Untuk memastikan kondisi di dalam rumah, Abdul menggunakan tangga dan mencoba melihat melalui ventilasi.
Saat itulah, ia mulai mencium aroma tidak sedap dari dalam rumah. "Rumahnya terkunci, saya ngintip dulu lewat ventilasi pakai tangga. Dari situ sudah kecium bau, tapi belum terlalu menyengat," katanya.
Baca Juga: 9 Kios di Pasar Surade Sukabumi Ludes Terbakar, Disdagin Taksir Kerugian Rp1 Miliar
Tak lama kemudian, anak perempuan korban tiba di lokasi. Karena pintu tetap terkunci, keluarga akhirnya meminta bantuan tukang kunci untuk membuka paksa pintu rumah. Proses membuka pintu berlangsung sekitar setengah jam karena pintu harus dibor.
Garis polisi di rumah dosen yang ditemukan membusuk, pada Jumat 25 September 2026
Namun, begitu pintu berhasil terbuka, bau menyengat langsung tercium hingga keluar rumah. Abdul mengaku sempat tidak kuat masuk ke dalam. Sementara anak korban terus memanggil-manggil ayahnya hingga akhirnya masuk dan mendapati PP sudah dalam kondisi meninggal dunia.
"Pas kebuka pintunya langsung bau menyengat. Saya juga tidak kuat awalnya. Tapi anaknya terus manggil-manggil si bapak, masuk ke dalam dan ketemu ternyata si bapak sudah meninggal," ungkapnya.
Korban ditemukan terbaring diatas kasur yang berada di ruang tengah. Tubuhnya dalam posisi terlentang dan masih tertutup selimut hingga bagian dada. Kondisi jasad korban telah mengalami pembusukan cukup parah. Wajahnya tampak menghitam dan tubuhnya dipenuhi belatung.
Baca Juga: Sempat Ambruk, Dinas PU Sukabumi Rampungkan Pembangunan Jembatan Linggamanik Jampangtengah
Meski demikian, Abdul menyebut kondisi rumah secara keseluruhan justru masih terlihat cukup rapi. "Posisinya terlentang pakai selimut sampai sedada," tuturnya.
Selama ini tidak ada kecurigaan terhadap rumah tersebut. Rumah korban memang terlihat tertutup dan gelap dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, warga memperkirakan rumah tersebut telah kosong sekitar dua pekan lantaran tidak terlihat aktivitas penghuni dan tidak ada lampu yang menyala. "Gelap, tertutup. Tidak ada lampu yang hidup satupun," kata Abdul.
Meski tidak mengetahui keberadaan korban, sejumlah warga sebelumnya sempat mencium aroma seperti bau bangkai di sekitar rumah. Bau tersebut terutama dirasakan oleh pengemudi ojek yang kerap melintas atau memarkirkan kendaraannya di sekitar lokasi.
"Mereka bilang kayak bau bangkai tikus atau kucing," ujarnya.
Baca Juga: BPBD: Tiga Sekolah Terdampak Badai di Cicurug Sukabumi, Disdik: Waspada Cuaca Ekstrem
Korban diketahui sehari-hari tinggal bersama seorang ART berinisial Ag. Namun, berdasarkan informasi yang diterima Abdul, ART tersebut disebut menghilang pergi atau kabur dari rumah itu sebelum korban ditemukan meninggal.
Korban sendiri memiliki keterbatasan beraktivitas. Ia tidak dapat berjalan dan sehari-hari menggunakan kursi roda, sehingga sangat membutuhkan bantuan ART.
Meski demikian, Abdul mengatakan saat masih tinggal bersama ART tersebut, korban tidak terlihat sedang mengalami sakit berat. Korban telah tinggal di wilayah tersebut selama kurang lebih delapan tahun, namu cukup tertutup dan jarang bersosialisasi.
"Jarang bersosialisasi sama warga. Paling kalau ada tukang gorengan, ngobrol-ngobrol sama tukang gorengan, sama ojek. Kalau sama yang lain tidak ada," ungkap Abdul.
Baca Juga: Komnas Perlindungan Anak Berencana Panggil Ruben Onsu Soal Hak Asuh Anak
Korban disebut berasal dari Toraja. Warga setempat hanya mengetahui jika korban beraktivitas sebagai pemborong pengeboran. Sejumlah peralatan bor juga terlihat tersimpan dan menumpuk di sekitar rumah.
Editor : Fitriansyah