SUKABUMIUPDATE.com - Rasa cemas selalu membayangi warga Kampung Malingping RT 13/04, Desa Tegallega, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, setiap kali hendak melintasi Sungai Cikaso. Sejak jembatan permanen sepanjang 15 meter dan lebar 3 meter hancur diterjang banjir pada 2024 lalu, urat nadi aktivitas masyarakat setempat praktis bertumpu pada konstruksi darurat dari kayu dan bambu.
Jembatan sementara buatan warga tersebut kerap menjadi ancaman keselamatan, terutama saat musim hujan tiba. Permukaan bambu yang basah dan licin tak jarang memakan korban.
"Keberadaan jembatan sementara memiliki risiko keselamatan, terutama saat musim hujan. Permukaannya yang licin membuat sejumlah pengendara sepeda motor tergelincir ketika melintas. Sudah banyak motor yang tergelincir," ungkap Kepala Desa Tegallega, Fuad Abdul Latif kepada Sukabumiupdate.com, Minggu (4/10/2026).
Baca Juga: Chanathip Songkrasin Antusias Hadapi Timnas Indonesia di Final FIFA ASEAN Cup 2026
Tidak hanya berbahaya, bentangan kayu dan bambu tersebut juga lapuk dimakan waktu. Sejak bencana terjadi dua tahun lalu, masyarakat telah bertindak gotong royong hingga tiga kali memperbaiki jembatan darurat tersebut. Namun, keterbatasan material membuat akses tersebut tak pernah bertahan lama.
Padahal, jembatan ini memegang peranan vital bagi denyut kehidupan warga di dua seberang sungai. Akses pendidikan anak-anak sekolah, lalu lintas perekonomian hasil bumi, pelayanan kesehatan, hingga interaksi sosial warga bergantung penuh pada titik penyeberangan ini.
Sadar akan besarnya keterdesakan warga dan tidak adanya alokasi anggaran khusus untuk perbaikan cepat, Pemerintah Desa (Pemdes) Tegallega akhirnya mengambil langkah tegas melalui jalur swadaya masyarakat.
Baca Juga: Belum Berizin, Pengerukan Tanah untuk Tol Bocimi di Nagrak Sukabumi Disetop Sementara
"Terdesak kebutuhan warga akan akses jembatan untuk kelancaran aktivitas, kami bersama BPD serta tokoh masyarakat berinisiatif untuk perbaiki jembatan ini secara permanen. Jembatan ini juga telah tiga kali kami perbaiki karena tidak kuat bertahan lama, akhirnya kami putuskan untuk swadaya, karena memang tidak ada anggaran khusus," tegas Fuad.
Aksi nyata pun mulai digulirkan. Warga bersama perangkat desa bergotong royong membersihkan sisa-sisa reruntuhan struktur lama sebagai tahap awal pembangunan kembali jembatan permanen secara mandiri.
"Hari ini mulai mengangkat puing-puing jembatan, sambil terus menggalang bahan material," pungkas Fuad.
Baca Juga: 10 Link Twibbon HUT TNI dan Ucapan yang Menarik Untuk Media Sosial
Melalui kerja bakti dan penggalangan material secara swadaya ini, warga Desa Tegallega berharap struktur permanen baru dapat segera terwujud, sehingga akses vital penunjang kehidupan masyarakat Kampung Malingping dapat kembali aman dan lancar tanpa diliputi rasa waswas.
Editor : Fitriansyah