SUKABUMIUPDATE.com – Sebanyak 27 warga di Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, dilaporkan mengalami gejala diare massal dalam beberapa hari terakhir. Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) melalui Puskesmas setempat memastikan bahwa kemunculan keluhan tersebut terjadi secara bertahap dan tidak secara bersamaan.
Kepala Puskesmas Gunungguruh, dr. Risdi Pramesta, menjelaskan bahwa informasi awal mengenai lonjakan kasus diare ini diperoleh dari kader kesehatan, bidan desa, serta pihak Pemerintah Desa Cikujang. Menurutnya, istilah diare massal mencuat lebih dikarenakan jumlah warga yang terdampak cukup banyak dalam satu waktu penanganan.
Berdasarkan hasil penelusuran tim medis di lapangan, gejala diare pada warga sebenarnya muncul secara bertahap, mulai hari Sabtu hingga Minggu (3-4/10/2026).
"Sebetulnya, diarenya tersebut dikatakan massal itu karena mungkin lebih kepada jumlahnya. Tapi kalau kemunculan kasusnya itu tidak bersamaan," ujar dr Risdi kepada sukabumiupdate.com, Selasa (6/10/2026).
Baca Juga: 27 Warga Gunungguruh Sukabumi Diare Massal, Polisi Selidiki Sumber Air yang Dikonsumsi
Risdi menambahkan, pihak Puskesmas menerima laporan kondisi darurat ini pada Minggu sekitar pukul 12.00 WIB. Merespons laporan tersebut, tim medis langsung berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) dan tiba di lokasi sekitar pukul 12.45 WIB untuk melakukan pemetaan serta pemeriksaan door-to-door.
Kasus diare ini menyebar di tiga titik lokasi, yaitu Kampung Gunungguruh, Kampung Lembak Muncang, dan Kampung Legok Nyenang. Hasil pemeriksaan awal dan anamnesis petugas menunjukkan adanya dugaan keterkaitan dengan penggunaan air dari penampungan air hujan, mengingat wilayah tersebut sempat diguyur hujan deras pada Jumat sebelumnya.
"Rata-rata di sana, di tiga titik lokasi tersebut punya penampungan air. Airnya ditampung dan bercampur dengan air yang sebelumnya, dan digunakan untuk aktivitas, baik itu memasak, bersih-bersih, cuci piring dan lain sebagainya," jelas Risdi.
Kendati demikian, pihak Puskesmas belum dapat menyimpulkan secara pasti apakah air tadah hujan menjadi pemicu utama. Pasalnya, sumber air yang dikonsumsi warga cukup bervariasi; sebagian menggunakan air sumur yang bercampur air hujan, sementara yang lain mengaku hanya menggunakan air sumur murni atau air minum kemasan.
Baca Juga: Kemarau Lebih Kering dan Panjang, Dinkes Jabar Ingatkan Risiko Diare hingga ISPA
Untuk mengungkap penyebab pasti kejadian ini, Risdi menyebut petugas Puskesmas bersama Dinkes Kabupaten Sukabumi telah mengambil sampel air sumur dan air dari penampungan tadah hujan milik warga.
"Semua sampel, baik dari sumur maupun dari penampungan air tadah hujan, sudah kami ambil dan dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda). Proses pemeriksaan membutuhkan waktu beberapa hari untuk tahap pembiakan bakteri," tuturnya.
Kabar baiknya, kondisi warga yang terdampak kini berangsur membaik. Hingga Selasa (6/10/2026), Puskesmas Gunungguruh melaporkan sudah tidak ada lagi temuan kasus baru maupun keluhan serupa dari masyarakat.
Dari total 27 warga yang mengeluhkan diare, mayoritas bergejala ringan. Hanya ada satu hingga dua pasien yang sempat mendapat perhatian serius, salah satunya adalah seorang ibu hamil. Setelah menjalani observasi ketat selama delapan jam di Puskesmas, kondisinya dinyatakan stabil dan telah diperbolehkan pulang sejak Senin pagi.
"Kalau di hari ini sudah hampir nol atau tidak ada pasien baru yang mengeluhkan diare dan sudah semuanya tertangani," pungkasnya.
Editor : Denis Febrian