SUKABUMIUPDATE.com - Keluhan diare, mual, dan pusing dialami sejumlah warga Kampung Legok Nyenang, Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, secara bersamaan.
Warga menduga kondisi tersebut berkaitan dengan konsumsi air setelah hujan yang turun beberapa hari setelah wilayah tersebut mengalami kemarau panjang. Namun, hingga kini belum ada hasil pemeriksaan yang memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut.
Salah seorang warga, Emal Lesmanawati (53), mengatakan dirinya mulai merasakan gejala pada Kamis (1/10/2026). Awalnya ia mengalami pusing dan mual, kemudian perut terasa kembung hingga akhirnya mengalami diare.
"Mulanya terasa pusing, terus mual, tapi enggak sampai muntah. Perut terasa kembung, terus bunyi-bunyi. Setelah itu langsung mencret," ujar Emal kepada sukabumiupdate.com saat ditemui di rumahnya pada Selasa (6/10/2026).
Baca Juga: Dispar Sukabumi Sambut Pelajar ASEAN di NPU, Momentum Promosi Wisata Daerah
Emal mengaku sempat membeli obat di apotek karena mengira keluhannya disebabkan masuk angin. Namun, kondisi tersebut tidak kunjung membaik dan berlanjut selama beberapa hari.
Ia kemudian mendapatkan pengobatan dari Puskesmas dan sempat menjalani perawatan selama satu malam pada Minggu (4/10/2026).
Menurut Emal, tenaga kesehatan belum dapat memastikan penyebab diare yang dialaminya. Ia menyebut kemungkinan penyebab masih berkaitan dengan makanan maupun air yang dikonsumsi.
"Katanya bisa dari makanan, bisa dari minuman atau air hujan. Tapi itu belum dicek pasti," katanya.
Emal mengatakan kondisi serupa ternyata dialami banyak warga di lingkungannya. Awalnya ia mengira hanya dirinya yang mengalami sakit perut. Namun, saat kegiatan pengambilan makanan bergizi gratis (MBG), ia mengetahui sejumlah warga lainnya juga mengalami keluhan serupa.
Baca Juga: MK Tak Temukan Bukti Gibran Miliki Ijazah Setara SLTA, Tolak Soal Diskualifikasi Wapres
"Enggak tahu kalau ternyata banyak. Waktu pengambilan MBG banyak yang cerita, ada juga yang titip karena enggak bisa datang, sedang sakit perut," ungkapnya.
Menurut perkiraannya, hampir 80 persen warga dalam satu RT mengalami keluhan diare. Di wilayah tersebut terdapat sekitar 70 kepala keluarga.
"Hampir 80 persen diare," ujarnya.
Bergantung pada Air Sumur
Emal menjelaskan, kebutuhan air bersih warga Kampung Legok Nyenang selama musim kemarau cukup bergantung pada air sumur. Untuk kebutuhan tertentu seperti mandi dan mencuci, warga juga membeli air yang diangkut menggunakan kendaraan tangki.
Namun, air yang dibeli tersebut tidak digunakan untuk kebutuhan konsumsi.
"Kalau air minum kadang air sumur, kadang air galon. Kalau tangki di depan rumah itu untuk mencuci, mandi, keperluan sehari-hari, enggak sampai buat minum," jelasnya.
Baca Juga: Jalur Pedestrian Kota Sukabumi Rawan Kejahatan: Dua Perempuan Jadi Korban Begal Payudara
Menurut Emal, warga memang sudah terbiasa membeli air ketika persediaan air bersih berkurang. Air tersebut biasanya dibawa menggunakan kendaraan tangki milik perusahaan di wilayah tersebut.
Sementara itu, terkait hujan yang turun sebelum warga mulai mengalami keluhan, Emal menyebut hujan terjadi beberapa hari berturut-turut, mulai Minggu hingga Rabu. Hujan tersebut disebut tidak terlalu deras.
"Mulai Minggu hujan, Senin, Selasa, Rabu juga hujan, tapi enggak sampai deras," tuturnya.
Emal sendiri mulai merasakan tubuh tidak enak pada Kamis.
Keluhan diare yang dialami warga tersebut kini menjadi perhatian lantaran terjadi dalam jumlah cukup banyak dalam satu lingkungan.
Diberitakan sebelumnya, sebanyak 27 warga di Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, dilaporkan mengalami gejala diare massal dalam beberapa hari terakhir.
Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) melalui Puskesmas setempat memastikan bahwa kemunculan keluhan tersebut terjadi secara bertahap dan tidak secara bersamaan.
Baca Juga: Kecelakaan di Jalur Lingkar Selatan Sukabumi, Pekerja PJU Sebut Sopir Boks Ngantuk
Kepala Puskesmas Gunungguruh, dr. Risdi Pramesta, menjelaskan bahwa informasi awal mengenai lonjakan kasus diare ini diperoleh dari kader kesehatan, bidan desa, serta pihak Pemerintah Desa Cikujang.
Menurutnya, istilah diare massal mencuat lebih dikarenakan jumlah warga yang terdampak cukup banyak dalam satu waktu penanganan.
Berdasarkan hasil penelusuran tim medis di lapangan, gejala diare pada warga sebenarnya muncul secara bertahap, mulai hari Sabtu hingga Minggu (3-4/10/2026).
"Sebetulnya, diarenya tersebut dikatakan massal itu karena mungkin lebih kepada jumlahnya. Tapi kalau kemunculan kasusnya itu tidak bersamaan," ujar dr Risdi kepada sukabumiupdate.com, Selasa (6/10/2026).
Kendati demikian, pihak Puskesmas belum dapat menyimpulkan secara pasti apakah air tadah hujan menjadi pemicu utama. Pasalnya, sumber air yang dikonsumsi warga cukup bervariasi; sebagian menggunakan air sumur yang bercampur air hujan, sementara yang lain mengaku hanya menggunakan air sumur murni atau air minum kemasan.
Baca Juga: ASEAN Youth Camp 2026 Digelar di Nusa Putra University, Pelajar dari 6 Negara Berkumpul di Sukabumi
Untuk mengungkap penyebab pasti kejadian ini, Risdi menyebut petugas Puskesmas bersama Dinkes Kabupaten Sukabumi telah mengambil sampel air sumur dan air dari penampungan tadah hujan milik warga.
"Semua sampel, baik dari sumur maupun dari penampungan air tadah hujan, sudah kami ambil dan dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda). Proses pemeriksaan membutuhkan waktu beberapa hari untuk tahap pembiakan bakteri," tuturnya
Editor : Ikbal Juliansyah