Sukabumi Update

Kepercayaan Dibalas Khianat, Predator Anak Berwujud Guru Ngaji di Nyalindung Sukabumi

Rumah panggung yang ditempati IS alias Ustaz Sukma, di Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. (Sumber : SU/Ragil Gilang).

SUKABUMIUPDATE.com - Pohon kurma berdiri kokoh di halaman sebuah rumah panggung berukuran 6 x 8 meter di Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi.

Bangunan sederhana itu sebelumnya dikenal sebagai tempat tinggal seorang pria yang dihormati warga karena aktivitas keagamaannya. Namun, kini rumah tersebut justru menyimpan cerita kelam yang meninggalkan trauma mendalam dan rasa tak percaya di tengah masyarakat.

IS (47), pria yang akrab disapa Ustadz Sukma, diamankan polisi pada Sabtu sore (3/10/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Ia diduga terlibat kasus pencabulan terhadap sejumlah anak laki-laki di kampung tersebut.

Bagi Darjat Sudarjat (62), atau yang akrab disapa Abah Atang, kabar tersebut terasa seperti petir di siang bolong. Selama sekitar tiga tahun terakhir, ia diketahui meminjamkan rumah panggung miliknya kepada IS untuk ditempati secara cuma-cuma.

"Rambutnya gondrong, berjenggot, kondisinya memprihatinkan," kenang Abah Atang saat ditemui Sukabumiupdate.com, Kamis (8/10/2026).

Baca Juga: Remontada, Persib Bandung Permalukan Port FC 3-1 di Laga Perdana Shopee Cup 2026/2027

Didampingi sang istri di kediaman anaknya yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah panggung tersebut, Abah Atang menceritakan awal mula kedatangan IS dari Bogor sekitar tiga tahun lalu.

Kala itu, IS datang untuk mencari almarhum mertua Abah Atang yang merupakan sesepuh kampung. IS mengaku pernah berkunjung dan mengenal sosok tersebut ketika masih remaja.

Namun, setibanya di kampung, IS mengetahui bahwa sesepuh yang dicarinya telah lama meninggal dunia. Warga kemudian mengantarnya ke rumah keluarga Abah Atang.

Dengan tutur kata sopan dan senyum lugu, IS meminta izin menumpang tinggal. Ia mengaku sakit hati setelah bercerai dari istrinya di Bogor dan bertekad ingin mengabdikan diri di kampung tersebut.

Melihat niat tersebut, Abah Atang bersama warga menyambut kedatangan IS dengan terbuka. Laporan mengenai keberadaannya pun disampaikan secara resmi kepada ketua RT setempat.

Baca Juga: Pelanggaran HAM dalam Kasus Keracunan MBG, Komnas HAM Desak Penegakan Hukum

Seiring berjalannya waktu, kehidupan sehari-hari IS perlahan menarik simpati warga. Ia dikenal rajin membantu pekerjaan di sawah dan kebun serta aktif mengikuti berbagai kegiatan kemasyarakatan.

Karena dianggap memiliki pengetahuan agama yang mumpuni, IS kemudian dipercaya mengajar di madrasah, memimpin pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu, hingga beberapa kali diundang untuk mengisi ceramah di sejumlah tempat.

Warga yang bersimpati kepadanya bahkan kerap membantu memenuhi kebutuhan hidup IS sehari-hari.

Meski tidak secara rutin mengajar mengaji anak-anak, IS disebut kerap mengajak sejumlah anak laki-laki untuk menginap di rumah panggung tersebut. Kepada warga, kegiatan itu disebut sebagai bagian dari belajar sholawat.

Saat itu, tidak ada kecurigaan yang muncul di benak Abah Atang maupun warga terhadap aktivitas tersebut.

Baca Juga: Cicurug Tertinggi, 69 Ribu Warganya Belum Kawin: Ini Daftar per Kecamatan di Kabupaten Sukabumi

"Kami tidak mencurigai ada penyimpangan perilaku itu," ujar Abah Atang.

Namun, situasi berubah setelah salah seorang anak yang diduga menjadi korban memberanikan diri melapor kepada ketua RT. Laporan tersebut kemudian diperkuat dengan bukti berupa rekaman video yang diduga merekam tindakan pencabulan yang dilakukan IS terhadap korban.

Kabar tersebut sontak mengubah pandangan warga yang selama ini menaruh simpati dan kepercayaan kepada IS. Rasa iba yang terbangun selama bertahun-tahun berubah menjadi kemarahan dan kekecewaan.

Abah Atang mengaku terpukul karena rumah yang dipinjamkannya secara cuma-cuma justru diduga menjadi lokasi terjadinya perbuatan tersebut.

"Kini oknum ustaz bejat itu sudah diamankan polisi," tegas Abah Atang dengan nada geram.

Kini, rumah panggung berbahan kayu tersebut kembali sepi. Pohon kurma yang berdiri di halamannya masih menjadi penanda bangunan itu. Namun, bagi warga Desa Kertaangsana, rumah tersebut bukan lagi sekadar tempat tinggal. Bangunan itu menjadi bagian dari kisah yang meninggalkan luka dan trauma, terutama bagi anak-anak yang diduga menjadi korban.

Baca Juga: Desak Evaluasi! SMKN 1 Gunungguruh Sukabumi Soroti Respon SPPG Pasca Dugaan Keracunan MBG

Pemulihan atas luka psikologis tersebut tentu membutuhkan waktu dan perhatian, sementara proses hukum terhadap IS masih berjalan.

Berdasarkan informasi, IS juga sempat menikah dengan seorang perempuan asal Desa Kertaangsana sekitar tahun 2025. Namun, pernikahan tersebut hanya bertahan sekitar dua bulan dan berakhir perceraian dengan alasan faktor ekonomi.

Diberitakan sebelumnya, oknum guru ngaji berinisial IS telah dicokok oleh pihak kepolisian setelah dilaporkan mencabuli sejumlah anak laki-laki di Kecamatan Nyalindung. Pelaku saat ini sudah mendekam di sel tahanan Mapolres Sukabumi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

 

 

Editor : Ikbal Juliansyah

Tags :
BERITA TERKAIT