SUKABUMIUPDATE.com - Proyek penataan Lapang Sekarwangi di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, mulai memasuki tahap pengerjaan fisik. Kawasan seluas 5.101 meter persegi itu akan disulap menjadi ruang terbuka publik (RTP) yang dilengkapi sejumlah fasilitas, termasuk ornamen Nayor sebagai ikon khas Cibadak.
Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Sukabumi menargetkan pengerjaan kawasan tersebut rampung sebelum Desember 2026.
Pantauan sukabumiupdate.com di lokasi pada Jumat (9/10/2026), sejumlah aktivitas konstruksi mulai terlihat. Petugas melakukan penggalian tanah, pengerukan material, hingga pembongkaran pagar pembatas di tepi lapangan yang berbatasan langsung dengan jalan raya. Satu unit ekskavator juga disiagakan untuk mendukung pekerjaan.
Papan peringatan telah dipasang di tepi jalan utama untuk mengingatkan pengguna jalan agar berhati-hati selama proses pengerjaan berlangsung. Sementara itu, bagian tengah lapangan yang masih hijau terlihat tetap dimanfaatkan anak-anak sekitar untuk bermain.
Baca Juga: Menunggu 20 Tahun, Lapang Sekarwangi Cibadak Jadi Ruang Terbuka Publik: Icon Baru Sukabumi Utara
Kepala Disperkim Kabupaten Sukabumi, Sendi Apriadi, mengatakan kawasan tersebut nantinya dikembangkan sebagai Ruang Terbuka Publik Sekarwangi Cibadak, bukan sekadar alun-alun. Penataan diarahkan untuk mendukung aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat sekaligus menghadirkan identitas lokal.
"Ini ruang terbuka publik Sekarwangi Cibadak namanya. Tentunya pertama untuk meningkatkan akselerasi, baik dari sisi fungsi sosial, ekonomi, kemudian budaya, dan juga menjadi salah satu ikon, supaya ada percepatan dan ciri khas, identitas warga masyarakat sisi ekonomi," kata Sendi seusai sosialisasi proyek ini kepada masyarakat, Selasa (29/9/2026).
Salah satu unsur yang akan ditonjolkan dalam penataan tersebut adalah ornamen Nayor, yang merepresentasikan moda transportasi tradisional berupa kereta kuda khas Cibadak. Kehadiran ornamen itu diharapkan memperkuat karakter kawasan sekaligus menjadi penanda identitas lokal.
Sendi menyebut, selain Nayor, kawasan tersebut juga akan dilengkapi gerbang masuk Mubarakah dan sejumlah fasilitas untuk menunjang kegiatan masyarakat.
"Punya ciri khas sendiri. Nanti ada ciri khas sendiri, ada ikon Cibadaknya, kemudian ada Nayor-nya yang kita siapkan, kemudian ada juga gerbang masuk Mubarakah-nya," ujarnya.
Baca Juga: Membongkar Sejarah Nayor di Cibadak, Topik Skripsi Mahasiswa Asal Sukabumi
Dalam konsepnya, ruang terbuka publik ini tetap mempertahankan sejumlah fungsi yang selama ini berjalan di Lapang Sekarwangi. Setidaknya ada tiga fungsi utama yang akan diakomodasi, yakni olahraga, kegiatan keagamaan, dan aktivitas ekonomi.
Fasilitas yang direncanakan meliputi lapangan, jalur jogging, area usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) atau food court, serta gerbang utama dan landmark Nayor.
"Nanti kita akan siapkan di sana ada tiga fungsi yang memang tetap diselenggarakan. Yang pertama fungsi olahraganya tetap ada, kemudian ada fungsi sarana keagamaan yang biasa dilakukan oleh masyarakat, kemudian juga ada fungsi ekonomi, salah satunya nanti ada food court yang akan kita siapkan," jelas Sendi.
Kawasan itu juga dirancang untuk mendukung aktivitas seni dan budaya masyarakat serta memberikan ruang bagi pelaku UMKM.
Untuk merealisasikan penataan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Disperkim menyiapkan anggaran sekitar Rp4,7 miliar.
Berdasarkan papan informasi proyek yang terpasang di lokasi, pekerjaan tercantum dengan nama Paket Pekerjaan Pembangunan Alun-alun Cibadak. Nilai kontraknya sebesar Rp4.678.434.000 yang bersumber dari APBD Kabupaten Sukabumi.
Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) diterbitkan pada 28 September 2026, dengan masa pelaksanaan selama 90 hari kalender. Meski demikian, Sendi menargetkan pengerjaan ruang terbuka publik tersebut dapat selesai lebih cepat, yakni sebelum Desember 2026.
"Target kita selesai sebelum Desember 2026," katanya.
Sendi memastikan proyek itu tidak memerlukan pembebasan lahan karena kawasan yang digunakan merupakan aset milik Pemerintah Kabupaten Sukabumi.
"Tidak ada. Lahan Pemkab itu," ujarnya.
Menurut Sendi, penataan Lapang Sekarwangi juga menjadi bagian dari upaya menyiapkan Cibadak sebagai kawasan yang semakin strategis. Perkembangan mobilitas masyarakat dan akses menuju wilayah Sukabumi dinilai perlu diimbangi dengan ruang publik yang memadai.
“Cibadak adalah puser, atau di istilah tata kota itu satelit. Tempat berkumpul semua sistem sosial. Dan perkembangannya setiap tahun berubah,” katanya.
Ia berharap pengembangan ruang terbuka publik tersebut dapat mendukung aktivitas masyarakat sekaligus mendorong perputaran ekonomi di kawasan Cibadak.
Sendi menuturkan, gagasan penataan kawasan Cibadak telah dirancang sejak dirinya menjabat sebagai lurah pada 2006–2008. Rencana itu, kata dia, telah melalui beberapa periode perencanaan pembangunan daerah sebelum akhirnya memasuki tahap pelaksanaan.
“2006–2008 saat saya jadi lurah ada grand design bagaimana Cibadak ke depannya. Sekarang sudah 20 tahun, yang sudah direncanakan akan terwujud secara bertahap,” ungkapnya.
Ia menambahkan, rencana tersebut telah tercantum dalam empat periode Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
“Sudah empat kali RPJMD dan itu sudah ada sebenarnya. Mungkin tahun-tahun sebelumnya istilahnya jodohnya belum bertemu, dan baru ketemu hari ini dan bisa dieksekusi,” pungkasnya. (adv)
Editor : Denis Febrian