SUKABUMIUPDATE.com - AS (30) pekerja pengolahan batu kapur di Jampangtengah Kabupaten Sukabumi meninggal dunia pada Rabu 14 Oktober 2026. Dua pekan sebelumnya, pabrik ini didatangi tim Dinas Lingkungan Hidup atas laporan warga sekitar yang terganggu dengan pekatnya asap pembakaran produksi.
AS (30 tahun) warga Kampung Ciguha RT 04/RW 05, Desa Jampangtengah, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, menghembuskan napas terakhirnya saat dalam perjalanan menuju klinik terdekat. Almarhum pingsan di area lokasi kerja.
Kerabat menjelaskan saat itu AS makan bersama (botram) dengan rekan-rekan kerjanya pada jam istirahat. "Setelah makan bersama, almarhum sempat mengeluh sakit di bagian ulu hati (nyeri angen). Tak lama kemudian, ia mendadak pingsan di lokasi," ujar warga menirukan penuturan keluarga korban kepada Sukabumiupdate.com, Kamis 15 Oktober 2026.
Melihat kondisi tersebut, rekan korban langsung membawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat. Namun setibanya di klinik, tim medis menyatakan korban sudah meninggal dunia.
Baca Juga: Dijerat Dalam Mobil, Jasad Pemuda Makassar Dibawa Keliling Sukabumi Sebelum Dibuang di Tol Bocimi
Almarhum AS sudah lama bekerja di pabrik pengolahan batu kapur yang berlokasi di Kampung Cijambe, Desa Sindangresmi, Kecamatan Jampangtengah. Ia sempat berhenti dan mengadu nasib merantau ke Jambi. Namun, tak lama kemudian almarhum memilih kembali ke kampung halaman dan bekerja kembali di pabrik pengapuran tersebut.
Kepergian almarhum menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Almarhum meninggalkan seorang istri dan seorang anak laki-laki yang baru berusia 4 tahun. Jenazah almarhum telah dimakamkan oleh pihak keluarga dan warga setempat di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ciguha Kamis pagi sekitar pukul 09.30 WIB.
DLH Kabupaten Sukabumi saat mendatangi lokasi pengolahan batu kapur di Kampung Cijambe, Desa Sindangresmi, Kecamatan Jampangtengah, Rabu (30/9/2026).
Penjelasan Pemilik Usaha Batu Kapur
Dikonfirmasi terpisah, pemilik pengolahan batu kapur, H. Henhen, membenarkan peristiwa tersebut. Kejadian berlangsung sekitar pukul 16.00 WIB saat almarhum bertugas di bagian produksi.
"Seperti biasa pagi masuk dalam keadaan sehat, tidak ada tanda-tanda sakit. Saat pukul 12.00 biasa istirahat, namun kepada teman kerjanya mengeluh sakit perut (seel), hingga keluar keringat dingin. Pada pukul 16.00 WIB lemas dan pingsan lalu dibawa untuk berobat ke klinik terdekat, pas dicek sudah meninggal dunia," terang H. Henhen kepada Sukabumiupdate.com, Jumat (16/10/2026).
Baca Juga: Mayat di Bawah Tol Bocimi KM 69 Sukabumi Korban Pembunuhan, 3 Pelaku Ditangkap
H. Henhen menegaskan bahwa kejadian ini murni masalah kesehatan dan bukan disebabkan kecelakaan kerja. Berdasarkan keterangan keluarga, korban juga tidak memiliki riwayat penyakit berat dan telah bekerja di tempatnya selama kurang lebih satu tahun.
"Saat itu kami meminta bantuan ambulans Puskesmas Jampangtengah untuk dibawa ke rumah duka, keluarga menerima sebagai takdir. Untuk biaya pemulasaraan dan tahlilan kami tanggung. Jadi itu bukan karena kecelakaan kerja," tegasnya.
Hal yang sama juga ditegaskan Camat Jampangtengah, Ikhsan Muchlis Sani, berdasarkan informasi pihak Desa Sindangresmi, mengonfirmasi bahwa almarhum meninggal dunia di lokasi kerja. "Laporan yang kami terima meninggal karena ada rimayat penyakit, bukan karena kecelakaan kerja," ucap Camat singkat, Jumat (16/10/2026).
Asap Hitam Pembakaran Kapur kotori permukiman Warga Kampung Cijambe RT 13/RW 04, Desa Sindangresmi, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi.
Angka ISPA Menurun
Kepala Puskesmas Jampangtengah, Imanuel, memberikan gambaran terkait kondisi kesehatan lingkungan setempat. Menurutnya, tingkat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah Jampangtengah terpantau mulai membaik dan mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.
Baca Juga: Tabrakan Truk di Parungkuda Sukabumi, Sopir Pengangkut Pakan Ternak Dibawa ke Rumah Sakit
Penurunan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh berkurangnya aktivitas pengapuran dan pertambangan di kawasan ini lantaran adanya pengetatan perizinan dari Pemerintah Provinsi.
Isu Lingkungan
Pabrik pengolahan batu kapur tempat korban bekerja sebelumnya sempat menjadi perbincangan warga di media sosial. Kepulan asap hitam pekat dari cerobong pabrik dari proses produksi, juga sempat membuat warga sekitar melayangkan keluhan dugaan pencemaran udara ke pihak Kecamatan Jampangtengah.
Camat Jampangtengah, Ikhsan Mukhlis Sani, menyatakan bahwa pihaknya bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi telah turun langsung ke lokasi pada 30 September 2026 lalu.
Dari hasil pengecekan tersebut ditemukan dua unit tungku pembakaran batu kapur yang dikelola warga setempat dengan memanfaatkan kombinasi bahan bakar kayu, batu bara, serta bahan limbah seperti kain, spon, dan karet.
Baca Juga: Di balik Klaim Vape Bebas Diabetes: Komnas PT Bongkar Fakta Risiko Prediabetes dan Bias Industri
Plt Kepala DLH Kabupaten Sukabumi, Endang Suherman, menyampaikan bahwa pihaknya telah menerjunkan tim untuk memberikan pembinaan serta melayangkan rekomendasi tegas agar pengelola segera menghentikan penggunaan bahan bakar berbahaya dan beralih ke bahan yang ramah lingkungan.
"Nanti kami bahas dengan tim di DLH apakah diperlukan dokumen lingkungan lainnya. Tadi ketika dimonitor asap hitamnya memang tidak ada. Namun, sudah diberikan rekomendasi agar pengelola menggunakan bahan yang ramah lingkungan. Nanti sewaktu-waktu kita lihat lagi apakah rekomendasinya dilaksanakan. Kalau tidak patuh, sanksi akan diterapkan sesuai UU dan Permen LH No. 60 Tahun 2026," tegas Endang.
Editor : Fitriansyah