SUKABUMIUPDATE.com – Pihak SMP PGRI 2 Nagrak, Kabupaten Sukabumi, menyampaikan penjelasan resmi terkait penanganan AI (12), siswa kelas VII yang mengalami cedera parah akibat dugaan kekerasan di lingkungan sekolah.
Kasus yang menimpa pelajar laki-laki asal Desa Kalaparea, Kecamatan Nagrak, ini sebelumnya sempat viral di media sosial setelah foto hasil rontgen korban yang menunjukkan patah tulang paha atas tertutup (closed fracture) tersebar luas.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP PGRI 2 Nagrak, Sova Marwah, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut diperkirakan terjadi pada Selasa, 29 September 2026, saat para siswa bersiap melaksanakan salat Zuhur di musala sekolah. Berdasarkan investigasi internal, insiden pilu ini bermula dari aksi saling bercanda yang melibatkan korban dan sejumlah siswa lain, namun situasi kemudian memanas hingga berujung pada tindakan fisik.
"Awalnya dari bercanda, tetapi mungkin berlebihan. AI melawan, lalu siswa yang diduga terlibat terbawa emosi hingga terjadi kejadian seperti itu," ujarnya kepada sukabumiupdate.com, Senin (19/10/2026).
Meski demikian, Marwah menegaskan pihak sekolah sama sekali tidak membenarkan tindakan fisik apa pun yang mengakibatkan siswa cedera.
Baca Juga: Viral Dugaan Bullying di Nagrak Sukabumi, Pelajar SMP Alami Patah Tulang Tertutup
Kronologi Penanganan dan Sempat Terkendala BPJS
Menurut Marwah, pihak sekolah baru menerima laporan mengenai kejadian ini dari wali kelas pada 7 Oktober 2026. Begitu mendapat kabar, perwakilan sekolah langsung mendatangi rumah korban untuk melakukan konfirmasi, disusul dengan kunjungan ke rumah para siswa yang diduga terlibat.
"Begitu ada kabar, kami langsung datang ke rumahnya untuk konfirmasi. Setelah itu, kami juga datang ke rumah pihak yang diduga terlibat untuk membicarakan penyelesaiannya," kata Marwah.
Pada 8 Oktober 2026, lanjut Marwah, sekolah memfasilitasi pertemuan antara keluarga korban dan keluarga pelaku di lingkungan sekolah. Fokus utama dialihkan pada penanganan medis AI. Menggunakan mobil pribadi, pihak sekolah melarikan korban ke fasilitas kesehatan di Girijaya, Nagrak, sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Sekarwangi malam harinya.
Dalam proses penanganan medis, pihak sekolah sempat berupaya mengurus pembiayaan melalui BPJS Kesehatan karena korban belum memiliki kepesertaan aktif. Namun, langkah tersebut terkendala oleh persoalan administrasi kependudukan (Adminduk) serta perbedaan wilayah kabupaten. Guna memastikan penanganan tidak tertunda, pihak sekolah akhirnya turun tangan memberikan bantuan materi untuk menutupi biaya pengobatan selama AI dirawat.
"Yang penting anak ini sembuh dulu. Kalau memang harus dioperasi, kami mengikuti penanganan dokter," jelas Marwah.
Selama korban dirawat, pihak sekolah juga mengaku beberapa kali mengunjungi korban dan memberikan bantuan kepada keluarga. Marwah mengatakan kunjungan dilakukan oleh perwakilan guru, baik perempuan maupun laki-laki.
Baca Juga: 100 Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo Resmi Mengaspal di Palabuhanratu Sukabumi
Sepakat Damai Kekeluargaan dan Masih Didampingi
Lebih lanjut Marwah menuturkan, bahwa pertemuan intensif yang turut dipantau oleh Kapolsek Nagrak tersebut akhirnya menghasilkan kesepakatan damai secara kekeluargaan.
Dalam berita sebelumnya, orang tua AI, Maria, juga sempat mengonfirmasi bahwa persoalan ini telah diselesaikan secara kekeluargaan dan pihak keluarga telah menerima pertanggungjawaban dari pihak-pihak terkait.
Adapun salah satu poin kesepakatan mengatur mekanisme penggantian biaya pengobatan lanjutan. Marwah menyebut keluarga korban diminta untuk menyertakan dokumentasi foto dan bukti administrasi resmi apabila ke depan terdapat tindakan medis lanjutan yang membutuhkan biaya, agar tidak memicu kesalahpahaman.
"Kalau ada tindakan untuk penyembuhan, mohon difoto dan disertakan administrasinya supaya tidak ada kesalahpahaman. Itu sudah dibicarakan bersama," ujarnya.
Setelah sempat dirawat intensif dengan pemasangan pelvic binder (alat penyangga panggul) dan diperbolehkan pulang pada 13 Oktober lalu, AI diketahui kembali menjalani kontrol medis di RSUD Sekarwangi pada Senin (19/10/2026) dengan tetap didampingi oleh pihak sekolah.
"Kami masih mendampingi korban sampai kondisinya pulih. Fokus kami sekarang bagaimana AI bisa sehat kembali," pungkas Marwah, seraya berharap peristiwa ini dapat menjadi pembelajaran berharga agar tidak ada lagi kasus serupa yang terulang di lingkungan pendidikan.
Editor : Denis Febrian