SUKABUMIUPDATE.com - Pemerintah Desa Tegalbuleud, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, bergerak cepat menangani warganya Pekerja Migran Indonesia (PMI/TKW) non-prosedural yang sedang terbaring sakit di Malaysia. Langkah mandiri ini terpaksa ditempuh lantaran aduan ke dinas terkait bertepuk sebelah tangan.
Kepala Desa Tegalbuleud, Ramdan Arif Firmansyah, mengatakan warganya yang sakit itu bernama Komsiah (57), asal Kampung Panaruban, Desa Tegalbuleud. Komsiah dilaporkan sakit stroke saat bekerja di kawasan Jalan Damai Utama 2, Puchong, Selangor, Malaysia.
Kasus ini pertama kali dilaporkan oleh Yuhaimah (31), menantu Komsiah, pada Senin (2/11/2026). Korban diketahui telah bekerja di Malaysia selama 11 tahun. Kendati berada di luar negeri, komunikasi dengan keluarga di kampung halaman tetap berjalan lancar sehingga kondisi kesehatannya yang terus memburuk terpantau oleh pihak keluarga.
Baca Juga: Harga Tepung Aci Tembus Rp20 Ribu per Kg, Bupati Sukabumi Siapkan Pasar Murah
"Kami selaku Pemerintah Desa Tegalbuleud langsung bertindak cepat menanyakan kronologi awal hingga akhir. Kami membuat laporan dan permohonan bantuan formal ke tingkat kecamatan hingga kabupaten disertai data-data Komsiah," ujar Ramdan Arif Firmansyah, kepada sukabumiupdate.com.
Surat permohonan bantuan tersebut ditujukan ke sejumlah instansi terkait di Kabupaten Sukabumi, antara lain:
- Dinas Sosial Kabupaten Sukabumi
- Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnaker) Kabupaten Sukabumi
- BAZNAS Kabupaten Sukabumi
Namun, Ramdan mengungkapkan kekecewaannya lantaran hingga penjemputan diupayakan, tidak ada respon maupun bantuan konkret dari dinas-dinas terkait tersebut.
"Saya atas nama Pemdes Tegalbuleud sangat kecewa kepada pihak pemerintah atau dinas terkait karena tidak merespon sama sekali masalah ini," tegasnya.
Baca Juga: Sampah Menumpuk di Irigasi Perbatasan Cidahu-Parungkuda Sukabumi, Camat Ajak Warga Kerja Bakti
Inisiatif Hubungi KBRI dan Relawan
Menghadapi jalan buntu dari penanganan formal daerah, Kades Tegalbuleud mengambil langkah taktis dengan menghubungi langsung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia.
Awalnya, KBRI mematok syarat pembiayaan pemulangan sebesar Rp20 juta yang harus ditanggung oleh keluarga atau pihak desa. Mengetahui kondisi ekonomi keluarga Komsiah yang tergolong kurang mampu, Ramdan kembali melakukan negosiasi.
"Saya telepon kembali ke KBRI dan menjelaskan bahwa warga kami benar-benar tidak mampu. Alhamdulillahi rabbil 'alamin, direspon baik oleh KBRI. Biaya pemulangan akhirnya dibantu oleh relawan, komunitas TKI di Malaysia, serta pihak otoritas Malaysia," jelas Ramdan.
Baca Juga: 7 Eks Pegawai Bank Plat Merah di Sukabumi Jalani Sidang Kasus Dugaan Penyimpangan KUR dan Kupedes
Sementara itu, untuk biaya operasional penjemputan dari bandara menuju rumah keluarganya di Sukabumi, pihak pemdes mengandalkan uluran tangan donatur.
"Untuk ongkos bensin penjemputan, alhamdulillah ada bantuan dana sekitar Rp1,2 juta dari Hamba Allah," pungkasnya.
Saat ini, rangkaian pemulangan telah memasuki tahap akhir. Berdasarkan jadwal, tim Pemdes Tegalbuleud bersama pihak keluarga bergerak menggunakan ambulans desa untuk menjemput kepulangan Komsiah di Bandara Soekarno-Hatta pada Sabtu malam ini (7/11/2026).
Editor : Ikbal Juliansyah